Strategi Utang APBN 2026: Menkeu Manfaatkan Momentum Pasar SBN
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Pemerintah telah menarik pembiayaan utang sebesar Rp 494,3 triliun hingga akhir September 2026. Realisasi tersebut mencapai 59,4 persen dari target pembiayaan utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 832,2 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan, realisasi pembiayaan utang pemerintah masih berjalan sesuai rencana.
Pemerintah terus memperhitungkan kebutuhan kas negara sekaligus mencermati perkembangan pasar keuangan di tengah dinamika ekonomi global.
“Pembiayaan utang terjaga on track,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Dari total pembiayaan tersebut, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) secara neto menjadi penopang utama dengan realisasi sebesar Rp 497,5 triliun.
Angka tersebut setara 62,2 persen dari target penerbitan SBN neto sepanjang 2026 sebesar Rp 799,5 triliun.
Sementara itu, pembiayaan melalui pinjaman secara neto tercatat negatif Rp 3,2 triliun.
Padahal, pemerintah menargetkan pembiayaan pinjaman neto sebesar Rp 32,7 triliun dalam APBN 2026.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan utang hingga akhir September 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 502,9 triliun.
Meski demikian, penerbitan SBN secara neto justru meningkat dibandingkan Januari-September 2025 yang tercatat sebesar Rp 471,4 triliun.
Suahasil menegaskan, pemerintah tidak akan sembarangan menerbitkan surat utang.
Kondisi pasar obligasi dan perkembangan ekonomi global menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu penerbitan SBN.
Menurut dia, pemerintah harus mempertimbangkan kondisi pasar agar penerbitan surat utang dapat dilakukan secara optimal, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pembiayaan negara.
“Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global. Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik,” jelasnya.
Suahasil mengatakan, pemerintah akan memanfaatkan momentum ketika kondisi pasar mendukung. Sebaliknya, strategi penerbitan surat utang akan disesuaikan apabila kondisi pasar sedang kurang kondusif.
“Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan. Lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit,” ujarnya.
Kementerian Keuangan menyatakan, pengelolaan utang pemerintah tetap dilakukan secara terukur dengan memperhatikan keseimbangan antara efisiensi biaya dana dan risiko pembiayaan.
Selain itu, koordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas terkait terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar