25 Oktober Dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Indonesia Melawan Gempuran Sekutu
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
- visibility 8
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan sejak Agustus 1945 tengah memasuki babak krusial, pada 25 Oktober 1945 pasukan Sekutu berjumlah 6.000 orang yang dipimpin oleh Jenderal AWS Mallaby mendarat di Indonesia di Surabaya pada 25 Oktober 1945.

Mallaby memimpin pasukan militer Inggris dari Brigade Infanteri India 49 Maratha untuk melaksanakan misi utama yaitu melucuti tentara Jepang. Namun, ia juga membebaskan tahanan Belanda.
Tanpa rasa gentar dan takut rakyat dan pemerintah Jawa Timur di bawah pimpinan Gubernur RMTA Suryo semula enggan menerima kedatangan sekutu. Wakil-wakil rakyat dan Jenderal Mallaby kemudian mengadakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan berikut.
-Inggris berjanji tidak mengikutsertakan Angkatan Perang Belanda.
-Disetujui kerja sama kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketenteraman.
-Akan dibentuk kontak biro agar kerja sama berjalan lancar.
-Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang.
Tidak hanya itu Ini karena tentara Sekutu mulai menguasai gedung-gedung penting yang ada di sekitar pelabuhan. Tidak hanya itu, tentara Sekutu yang berjumlah 6000 orang membuat delapan pos pertahanan di beberapa sudut kota dan berniat melucuti semua persenjataan yang telah dikuasai rakyat.

Hal ini memicu kemarahan masyarakat Surabaya hingga akhirnya terjadi pertempuran antara arek-arek Surabaya dengan tentara Sekutu. Jenderal Mallaby tewas dalam baku tembak pada 30 Oktober 1945.
Di Surabaya pada saat itu terdapat berbagai kekuatan seperti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Dr.Mustopo, TKR dari Divisi Malang. Laskar Rakyat Hizbullah dimalang dan BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) yang dipimpin oleh Bung Tomo langsung merapatkan barisan.

Pada saat yang hampir bersamaan para pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi menyatakan bahwa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah Perang Sabil, maka suatu kewajiban yang melekat pada semua muslim. Para Kiai dan santri kemudian mulai bergerak dari pesantren-pesantren di Jawa Timur menuju ke Surabaya.***
- Penulis: Adi Bima

Merdeka
26 Oktober 2026 5:13 am