Kualitas Udara Buruk Akibat Karhutla, Malaysia Perpanjang Masa Penutupan Sekolah Selama 5 Hari
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Sekolah-sekolah di Johor, Malaysia, Kembali memperpanjang masa penutupannya selama lima hari mulai hari ini, Senin (19/10). Perpanjangan penutupan sekolah ini menyusul kondisi kabut asap yang membahayakan kesehatan.
Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negara Bagian Johor, Muhammad Naqib Md Ghazali, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah rapat Komite Koordinasi Penanganan Kabut Asap Johor pada Sabtu siang.
“Laporan pemantauan menunjukkan bahwa angka Indeks Pencemaran Udara (API) masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan belum menunjukkan perbaikan signifikan,” kata Naqib
Ia menjelaskan, perpanjangan penutupan sekolah tersebut akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, dan hasil pemantauan kesehatan.
Menurut Naqib, kebijakan ini sejalan dengan arahan Pemangku Raja Johor, Tunku Mahkota Ismail. Keputusan tersebut juga mencerminkan komitmen pemerintah negara bagian untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar dari rumah (PdPR) tetap dilaksanakan sesuai dengan Pedoman PdPR Versi 2.0 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Meski demikian, pengecualian terbatas dapat diberikan kepada siswa yang harus mengikuti ujian dan penilaian.
“Pengecualian ini harus dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Johor (JPNJ) dan tetap mematuhi prosedur operasi standar (SOP) kesehatan secara ketat. Tidak ada kegiatan tambahan yang diizinkan,” ujarnya.
Naqib mengatakan Departemen Pendidikan Johor akan meninjau SOP setiap hari sesuai arahan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Departemen tersebut juga akan meminta informasi terbaru dari lembaga penyelenggara ujian kementerian untuk mengoordinasikan jadwal ujian dan penilaian bagi sekolah negeri maupun sekolah agama di Johor.
Naqib turut mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker dan mematuhi seluruh pedoman kesehatan yang berlaku. Ia menyebut otoritas kesehatan telah menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko kesehatan akibat paparan polusi udara dalam waktu lama.
Ia juga menyarankan penerapan langkah pencegahan yang lebih menyeluruh, terutama untuk melindungi anak-anak dan kelompok rentan.
“Sepanjang Oktober, tercatat 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Johor. Angka ini meningkat 20,7 persen setiap pekan,” katanya
Sebelumnya, pemerintah Johor memerintahkan seluruh sekolah ditutup selama dua hari mulai 8 Oktober. Kebijakan tersebut kemudian diperpanjang sehingga lembaga pendidikan kembali ditutup selama lima hari mulai 12 Oktober.
Perpanjangan terbaru ini menyusul kebijakan penutupan sebelumnya. Pemerintah setempat masih memantau kualitas udara dan menilai kapan kondisi dinyatakan aman bagi siswa untuk kembali belajar di kelas.
Departemen Lingkungan Hidup Malaysia mencatat wilayah Pasir Gudang, Johor, memiliki angka API tertinggi di Malaysia, yakni 190, pada Minggu pukul 08.00.
Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat menurut klasifikasi yang digunakan otoritas setempat. Johor menjadi negara bagian yang paling terdampak kabut asap, dengan delapan stasiun pemantauan mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Berdasarkan portal Sistem Manajemen Indeks Pencemaran Udara milik Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, wilayah lain di Johor yang terdampak meliputi Larkin dengan angka API 181, Kota Tinggi (181), Pengerang (178), Batu Pahat (169), Kluang (163), Tangkak (160), dan Segamat (157).
Di wilayah Lembah Klang, kualitas udara juga masih tergolong tidak sehat meskipun hujan deras sempat mengguyur sejumlah daerah.
Johan Setia mencatat angka API 163, disusul Shah Alam (161), Klang (159), Petaling Jaya (157), dan Banting (156). Sementara itu, di Kuala Lumpur, angka API di Cheras mencapai 156 dan Batu Muda 155. Putrajaya mencatat angka 159. Dalam skala API Malaysia, angka 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, sedangkan angka di atas 200 tergolong sangat tidak sehat.***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar