Dibalik Klaim Super Cepat Penanganan Bencana, Ratusan Jiwa di Lhok Pungki Aceh Utara Masih Tidur di Tenda
- account_circle Deva Sakti
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Dibalik klaim pemerintah yang telah melakukan penanganan super cepat terkait penanganan pascabencana di Sumatera, masih banyak warga yang tidur beratap terpal dan beralas tanah.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan pemulihan daerah bencana.
“Dan (Presiden Prabowo) ingin seluruh satgas dan setiap menteri ataupun pejabat yang terkait itu terus menerus menyampaikan informasi update secara berkala kepada publik. Itu yang pertama,” kata Teddy, Rabu, 11 Februari 2026.
Kemudian yang kedua, kata Teddy, saat ini telah memasuki dua bulan pasca bencana. Menurutnya, fakta di lapangan sangat mengejutkan, karena pengerjaan dilakukan dengan sangat cepat.
“Dan data fakta dan realita di lapangan ini benar-benar menunjukkan hasil super cepat, hasil konkret, hasil kerja cepat pemerintah. Tentunya bersama seluruh elemen, TNI- POLRI, relawan, bersama dengan seluruh warga,” ungkapnya.
“Buktinya apa? Buktinya tentu yang sudah dijelaskan oleh seluruh menteri dan pejabat terkait tadi. Apa itu? Banyak sekali. Contoh konkretnya, dalam dua bulan sudah ada rumah tunan 5.500. Bahkan dalam empat bulan sudah jadi 1.500. Sekarang sudah jadi 5.500 rumah hunian,” sambung Teddy.
Namun, potret berbeda nampak di Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Dua bulan lebih setelah banjir dan longsor menerjang, Dusun Lhok Pungki belum sepenuhnya pulih. Kayu-kayu besar dan puing masih menutup akses jalan.
Bahkan, warga menyebut situasi yang mereka rasakan seperti banjir baru terjadi tadi malam, walaupun meski bencana itu sudah berlalu lebih dari dua bulan.
Kepala Dusun Lhok Pungki, Firmadi, mengatakan sebanyak 86 kepala keluarga atau 329 jiwa terdampak dalam peristiwa tersebut.
Hingga kini, warga masih tinggal di tenda bantuan BNPB. Pemerintah disebut telah menjanjikan pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap).
Sebanyak 43 unit huntara telah dibangun untuk warga Dusun Lhok Pungki, namun belum ditempati karena dinilai belum siap dan belum mencukupi kebutuhan seluruh warga terdampak.
Warga berharap relokasi dilakukan sekaligus untuk 86 kepala keluarga agar tidak terpisah. “Kalau belum lengkap 86 KK, kami belum mau pindah,” kata Firmadi.
Selain kebutuhan tempat tinggal, persoalan mata pencaharian menjadi tantangan serius. Kebun-kebun warga yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan kini hilang, berubah menjadi batu dan aliran sungai.
Di pengungsian, sebagian warga hanya mengandalkan pekerjaan kupas pinang dengan upah sekitar Rp1.000 per kilogram. “Kami harap ada lapangan kerja supaya warga tidak stres di pengungsian,” ujarnya.(*)
- Penulis: Deva Sakti

Saat ini belum ada komentar