Kilas Balik Sinema Indonesia dan Penampilan Film Perdana Sineas Muda Cianjur
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Sinema Indonesia memiliki sejarah yang sangat dinamis, mencerminkan gejolak sosial dan politik bangsa ini. Sejarah mencatat bahwa pemutaran film pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1900 di Batavia. Namun, produksi lokal baru dimulai pada era 1920-an melalui film bisu berjudul Loetoeng Kasaroeng (1926). Meski disutradarai oleh sineas asing, film ini menjadi fondasi awal masuknya teknologi audio-visual ke dalam narasi budaya lokal.
Identitas nasional dalam film baru benar-benar lahir setelah kemerdekaan. Sosok Usmar Ismail muncul sebagai pionir dengan mendirikan Perfini. Lewat film Darah dan Doa (1950), ia meletakkan standar bahwa film bukan sekadar komoditas dagang, melainkan alat ekspresi seni dan politik. Momentum syuting hari pertama film ini pun akhirnya ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, menandai kedaulatan sineas pribumi atas karyanya sendiri.
Memasuki era 1970-an hingga 1980-an, sinema Indonesia mengalami masa keemasan secara komersial. Genre drama keluarga, komedi slapstick, dan film aksi merajai bioskop. Tokoh-tokoh ikonik seperti Benyamin Sueb dan grup lawak Warkop DKI menjadi magnet utama penonton. Di sisi lain, kualitas artistik juga tetap terjaga lewat tangan dingin sutradara seperti Teguh Karya yang melahirkan karya-karya puitis dan mendalam secara psikologis.
Namun, kejayaan tersebut runtuh pada dekade 1990-an yang dikenal sebagai era “mati suri”. Invasi film-film Hollywood dan Mandarin yang masif, ditambah menjamurnya sinetron televisi, membuat produksi film layar lebar lokal menyusut drastis. Film yang bertahan saat itu umumnya didominasi oleh tema dewasa yang eksploitatif, yang lambat laun membuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas film nasional memudar.
Titik balik terjadi tepat di pergantian milenium. Munculnya “Generasi Milenial” sineas seperti Mira Lesmana dan Riri Riza membawa angin segar lewat Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Film-film ini berhasil membuktikan bahwa penonton Indonesia masih setia jika disuguhi cerita yang jujur dan relevan dengan kehidupan mereka. Sejak saat itu, industri film kita perlahan bangkit dari tidurnya.
Dekade 2010-an menandai fase diversitas genre. Sinema Indonesia mulai berani bereksperimen di luar zona nyaman drama romantis. Film aksi The Raid (2011) karya Gareth Evans berhasil mengguncang dunia internasional dan memperkenalkan pencak silat ke kancah global. Keberhasilan ini membuka jalan bagi aktor-aktor lokal untuk berkarier di Hollywood, sekaligus meningkatkan standar produksi teknis film dalam negeri.
Hadirnya karya-karya spektakuler tersebut yang mendorong sineas muda karya Muhammad Raihan asal Cianjur, Jawa Barat untuk menggarap film perdananya dengan judul Taruh Lingkaran Penderitaan yang tayang perdana pada Jumat (6/3) lalu di bioskop SAMS Studio.
Tema yang diangkat sederhana namun memiliki konflik yang cukup kompleks yang ada di kehidupan masyarakat sehari-hari dari anak yang ditinggal orang tua, perceraian hingga kasus yang hingga kini masih menghantui masyarakat yaitu Judi Online (Judol).
Sebagai Sutradara Raihan, yang masih menjadi salah satu siswa sekolah di Cianjur melihat hal itu sebagai bentuk keresahan dan mengguuncang batinnya, hingga terlahirlah film perdananya tersebut. Termasuk kategori film pendek dengan durasi kurang lebih 35 menit,
Film tersebut telah mendapat apresiasi langsung dari Wakil Bupati Cianjur, Ramzi Geyes Tebe yang ikut serta menyaksikan penayangan film tesebut.
“Saya sedang tidak ingin berbicara bagus atau tidak film ini, buat saya itu belum terlalu penting karena mereka masih dalam proses belajar, dengan kalian buat flm pendek ini bisa ditayangkan di SAMS studio, itu sudah sebuah prestasi, kurang lebihnya itu adalah bagian dari berproses, makanya saya bilang kalau mau datang diskusi lagi saya bantu, saya apresiasi langkah besar dari anak-anak muda di Cianjur, mereka membuat lompatan luar biasa dengan film pendek ini, itu tidak ada masalah,” terangnya
Selain Wakil Bupati Cianjur turut pula hadir Ketua DPRD Cianjur, Metty Triantika mengungkapkan rasa bangganya terhadap semangat juang para pemuda di daerahnya dalam menghasilkan karya visual yang nyata.
“Kami bangga melihat anak muda Cianjur memiliki kemauan besar untuk memproduksi film,” ujarnya, setelah acara gala premier tersebut.
Meski memberikan catatan agar durasi karya selanjutnya bisa diperpanjang demi kedalaman cerita, Metty menegaskan bahwa apa yang dilakukan Daffs Entertainment adalah bukti nyata bahwa potensi sineas lokal tidak boleh dipandang sebelah mata.
Proses syuting film Taruh Lingkaran Penderitaan ini memerlukan waktu dua bulan dengan lokasi pengambilan gambar di daerah Kecamatan Cilaku dan Perkotaan Cianjur.
Produksi ini melibatkan sejumlah kru, di antaranya Daffa Virzya Siva sebagai Executive Producer dan Produser, Muhammad Raihan sebagai Director sekaligus Director of Photography, serta Haidar Ali sebagai Project Manager.
Kru lainnya yang terlibat meliputi M Abdal Nurjaman sebagai Campers, Mia Agustina sebagai Clapper, M Hafiz AF sebagai Soundman, Ridho Al Fadilah sebagai Gaffer, Mildayani Sopiah sebagai Script Counter, Aulia Arya R dan Siti Rahayu di bagian Behind the Scene, Rifki Tesar sebagai Talent Coordinator, serta M Azkil Irfan Sutisna sebagai logistik. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar