Pilot Pengangkut Muatan BBM Meninggal Dunia, Kemenhub Buka Suara
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Kabar duka dari dunia dirgantara dari Kawasan Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, setelah sebelumnya PT Pelita Air Service masih menggali informasi terkait kronologi jatuhnya pesawat pengangkut muatan bbm yang terjatuh pada Kamis (19/2).
Namun ditengah masa itu, kemenhub mendapatkan kabar terakhir tentang nasib pilot pesawat kargo tersebut.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengonfirmasi jatuhnya pesawat charter pengangkut BBM tersebut menyebabkan Pilot pesawat tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F Laisa akhirnya buka suara tentang peristiwa terjatuhnya pesawat pengangkut BBM milik PT Pelita Air Service yang dikabarkan jatuh di perbukitan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).
Ia menyatakan penyebab kejadian kecelakaan pesawat yang mengangkut 1 orang kru yakni pilot hingga saat ini masih dalam penyelidikan.
“Informasi terakhir yang kami peroleh pada pukul 15.16 WITA pilot atas nama Captain Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia,” ujar Lukman dalam keterangan resmi, Kamis (19/2).
Dari statistik kelaikudaraan, ia menyebutkan pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Adapun jumlah total pemeriksaan jam terbang pesawat mencapai 3.303 jam.
Adapun pesawat yang dipergunakan adalah jenis Air Tractor AT-802 registrasi PK-PAA tahun pembuatan 2013, nomor seri 802-0494, yang secara khusus dioperasikan oleh Pelita Air Service untuk pengangkutan BBM ke daerah terpencil.
Pesawat berangkat dari Bandar Udara Long Bawan pada pukul 04.10 UTC (12.10 WITA) menuju Bandar Udara Tarakan dengan membawa muatan BBM Pertamina dengan estimasi waktu kedatangan di Tarakan pada pukul 05.15 UTC (13.15 WITA).
Berdasarkan laporan terakhir pilot tersebut menyampaikan kepada petugas ATC Tarakan waktu perkiraan pesawat Abeam Malinau pada pukul 04.24 UTC (12.24 WITA), namun pada pukul 04.20 UTC (12.20 WITA), diterima sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) dari pesawat tersebut. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar