Kenangan SBY 20 Tahun Silam Saat Tugaskan AHY Sebagai Prajurit Perdamaian TNI Perdana di Lebanon
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Indonesia masih merasakan duka mendalam atas gugurnya 3 Prajurit Perdamaian TNI di Lebanon, begitu pula yang dirasakan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingat kembali masa di saat dirinya mengeluarkan kebijakan mengirimkan Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL).
Bagi SBY, kehilangan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan luka mendalam bagi keluarga besar TNI dan bangsa.
“Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenazah, hati saya ikut tergetar. Memang, seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil,” kata SBY dalam cuitan di akun X @SBYudhoyono, Minggu (5/4)
Melihat situasi Lebanon yang kian memanas, memori SBY kembali ke tahun 2006. Saat itu, ia merupakan inisiator utama pengiriman satu batalyon plus Indonesia ke Lebanon setelah pecahnya perang antara Israel dan Hizbullah.
“Ini adalah sejarahnya, pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Lebanon. Korban berjatuhan utamanya dari pihak Lebanon,” ucap SBY, dikutip Kompas.com, Senin (6/4)
Dalam cuitannya, SBY mengatakan, saat menjadi presiden Indonesia, ia berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari UNIFIL.
Kala itu Dewan Keamanan PBB saat itu belum melakukan langkah yang efektif untuk menghentikan perang.
Kemudian Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Badawi berkunjung ke Jakarta. SBY saat itu mengusulkan kepada Badawi yang juga menjabat Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Negara-Negara Islam/OKI) menggelar emergency meeting untuk mendesak PBB segera bertindak.
“Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain,” ucap SBY.
Saat itu, ia menyampaikan Indonesia siap mengirimkan pasukan satu batalyon sebagai bagian dari penjaga perdamaian di perbatasan Israel dan Lebanon.
Posisi Indonesia saat itu adalah siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata dari keputusan yang diberikan PBB.
“Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Lebanon,” imbuh SBY.
Gerak cepat itu berbuah hasil, Perancis bersedia dengan pembelian tersebut dan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut SBY menggunakan format G to G atau pemerintah dengan pemerintah.
Kemudian tiga bulan kemudian dari usulan yang dilakukan SBY, kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A sudah bisa berangkat ke Lebanon.
Dengan bangga, SBY mengatakan kontingen perdana dari pasukan penjaga perdamaian yang dikirim Indonesia adalah putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono yang saat ini menjadi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam kabinet Prabowo-Gibran.
“Untuk diketahui, tiga orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan,” ucapnya.
SBY kemudian menyebut, hingga tahun 2026, sudah 19 kali kontingen Indonesia bertugas di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun.
“Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia,” katanya lagi.
SBY mengatakan, sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, ia menyampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia.
“Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” tandasnya.
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar