Ratusan Warga Alami Keracunan Massal Telah Merenggut Nyawa 1 dari 6 Balita, Dinkes Cianjur Tunggu Hasil Laboratorium
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Akibat keracunan massal salah 1 balita dari 6 balita yang sempat menjadi korban keracunan massal di Cianjur, Jawa Barat. Satu dari enam balita tersebut berinisial MAB (2) dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (23/4) sore, setelah sempat menjalani perawatan intensif.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur hingga kini masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kematian balita tersebut serta sumber keracunan yang menimpa ratusan warga lainnya.
Kepala Dinkes Cianjur, I Made Setiawan, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah pemicu utama keracunan karena makanan dari program makanan gratis atau faktor lain.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan,” ujar Made, Sabtu (25/4/2026).
Direktur RSUD Pagelaran, dr. Irvan Nur Fauzi, menjelaskan bahwa MAB tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis sebagai rujukan dari Puskesmas Leles pada Rabu (22/4).
Saat masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), balita tersebut menunjukkan gejala lemas, pusing, hingga pembengkakan pada tangan dan kaki.
“Hanya sekitar 12 jam dari pertama tiba di IGD, pasien meninggal dunia. Diagnosisnya syok septik. Sejak awal penanganan, pasien memang memiliki riwayat diare,” jelas dr. Irvan.
Total Korban Mencapai 134 Orang
Insiden ini bermula dari laporan 63 warga yang mengalami gejala keracunan. Namun, data terbaru menunjukkan skala dampak yang lebih luas.
Kepala Puskesmas Leles, Tedi Nugraha, mengungkapkan bahwa total warga yang mendapatkan penanganan medis mencapai 134 orang.
“Keluhan muncul sejak Senin sore, namun puncaknya terjadi pada Kamis dan Jumat hingga total tercatat 134 orang. Dari ratusan pasien, dua orang berada dalam kondisi buruk dan harus dirujuk ke rumah sakit,” tutur Tedi.
Meski sebagian besar korban telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang, Dinkes Cianjur memastikan pengawasan tetap berjalan.
Tenaga kesehatan di masing-masing desa disiagakan untuk memantau kondisi para korban, terutama balita, guna mengantisipasi adanya gejala susulan.
Pihak kepolisian dan dinas terkait saat ini masih mengumpulkan keterangan lebih lanjut sambil menunggu bukti ilmiah dari hasil uji sampel makanan yang telah dikirim ke laboratorium.
BGN Bantah Balita di Cianjur Meninggal Karena Konsumsi MBG
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, membantah meninggalnya balita MAB diakibatkan program MBG.
“Tidak benar meninggalnya bayi usia 2 tahun di Cianjur karena Program MBG,” tegas Nanik dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Nanik menjelaskan, makanan MBG diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles kepada penerima manfaat, termasuk MAB, pada 14 April 2026 dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Menu yang disajikan meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.
Namun, pada malam harinya serta keesokan pagi, orang tua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri di luar program MBG.
Gejala baru muncul dua hari kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, saat anak mulai mengalami muntah-muntah. Nanik mengeklaim, dari total 2.174 penerima manfaat yang menerima MBG pada 14 April, taak ada satu pun yang mengalami gangguan pencernaan.
“Hal ini menjadi indikator bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi aman dan layak konsumsi,” ujarnya.
Nanik juga menegaskan bahwa balita MAB terakhir mengonsumsi MBG pada Selasa, 14 April 2026. Sementara pada Rabu, 15 April 2026, anak tersebut tidak mengonsumsi MBG karena menolak makan.
Gejala kemudian muncul pada Kamis, 16 April 2026 sekitar pukul 06.00 pagi, berupa muntah dan diare. BGN pun menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya penerima manfaat 3B tersebut.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda M. Abdul Bais. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ungkap Nanik. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar