Kenali Ciri Alzheimer dan Penanganan yang Tepat
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Lupa menaruh barang, kesulitan mengingat nama seseorang, atau masuk ke sebuah ruangan tetapi lupa tujuan awal merupakan hal yang sering dialami di kehidupan sehari-hari.
Meski terkadang menimbulkan kekhawatiran, kondisi tersebut tidak selalu menjadi tanda penyakit Alzheimer.
Kelupaan dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk penuaan, stres, kelelahan, dan kurang tidur. Mengutip dari Harvard Health Publishing, Rabu (21/10/2026), menjelaskan bahwa kelupaan sesekali dapat terjadi pada orang dari berbagai kelompok usia.
Namun, penting untuk memahami perbedaan antara kelupaan yang masih tergolong normal dan gangguan ingatan yang dapat mengarah pada demensia, termasuk Alzheimer.
Ahli neurologi dari Harvard Medical School, Dr. Andrew Budson, mengatakan kebiasaan seseorang yang lupa apa yang ingin mereka lakukan ketika memasuki suatu ruangan tidak menjadi alasan dirinya mengidap alzheimer.
“Hal itu terjadi karena kita terdistraksi atau sedang memikirkan hal lain, lalu kita lupa mengapa kita masuk ke ruangan tersebut sampai kembali ke tempat semula. Jangan khawatir tentang hal itu,” ujarnya.
Menurutnya, bagian lobus frontal pada otak berperan dalam mengumpulkan informasi dari aktivitas sehari-hari dan membantu seseorang mengingatnya kembali ketika dibutuhkan.
Seiring bertambahnya usia, fungsi bagian otak tersebut dapat mengalami perubahan sehingga seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat informasi tertentu.
Selain penuaan, stres, kelelahan, kurang tidur, gangguan suasana hati, serta konsumsi sejumlah obat juga dapat memengaruhi kemampuan mengingat.
Kelupaan yang masih tergolong normal, misalnya ketika seseorang lupa nama atau detail tertentu untuk sementara waktu, tetapi akhirnya dapat mengingatnya kembali.
Budson menjelaskan, pada proses penuaan normal, informasi yang sudah tersimpan dalam ingatan umumnya masih dapat dipanggil kembali, meskipun membutuhkan waktu lebih lama atau petunjuk tertentu.
“Selama informasi tersebut sudah masuk ke dalam ingatan sejak awal, informasi itu seharusnya masih dapat diingat kembali, meskipun membutuhkan sedikit waktu, petunjuk, atau isyarat,” ujarnya.
Berbeda dengan kelupaan biasa, penyakit Alzheimer dapat merusak hipokampus yaitu bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan pengambilan kembali ingatan.
Kerusakan tersebut berkaitan dengan penumpukan protein abnormal seperti plak amiloid dan kekusutan protein tau yang menjadi karakteristik penyakit Alzheimer yang berakibat penderita mengalami kesulitan mengingat informasi meskipun sudah diberikan pengulangan atau petunjuk.
“Pada penyakit Alzheimer, bahkan ketika informasi diulang atau seseorang diberikan petunjuk, informasi tersebut tidak dapat diingat kembali,” ujarnya.
Tanda lain yang perlu diperhatikan meliputi mengulang pertanyaan atau cerita dalam percakapan yang sama, tersesat di rute yang sudah dikenal, serta kesulitan merencanakan atau menyelesaikan masalah.
Perubahan kemampuan menyelesaikan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan, kesulitan menemukan kata saat berbicara atau menulis, hingga perubahan suasana hati dan kepribadian juga dapat menjadi tanda gangguan yang lebih serius.
Budson menyarankan seseorang untuk berkonsultasi dengan dokter apabila gangguan ingatan berlangsung terus-menerus, semakin memburuk, atau mulai menghambat aktivitas.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan penyebab gangguan ingatan dan memberikan kesempatan untuk memperoleh penanganan yang sesuai.
Menurutnya, apabila gangguan ingatan ternyata disebabkan oleh Alzheimer, beberapa terapi yang tersedia dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif.
“Semakin dini pengobatan dimulai, semakin efektif hasilnya karena pengobatan tersebut dapat memperlambat penurunan fungsi,” ujarnya.
Sering lupa tidak serta-merta berarti seseorang mengalami Alzheimer tetapi, kelupaan yang menetap, memburuk, atau disertai perubahan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari perlu mendapatkan pemeriksaan medis.***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar