Jelang Laga Pamungkas Super League Musim 2025/2026, 3 Klub Besar Tanah Air Kompak Larang Flare
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Musim Super League 2025/2026 akan segera berakhir dimana ada tiga klub besar tanah air akan bermain dilaga pamungkas pada Sabtu (23/5/2026).
Tiga klub besar tanah air, yakni Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta telah kompak dengan mengampanyekan larangan flare pada laga terakhir Super League 2025/2026.
Ketiga klub itu meminta suporternya menaati regulasi demi keamanan pertandingan dan menghindari sanksi denda.
Persib dijadwalkan menjamu Persijap Jepara di Gelora Bandung Lautan Api Stadium.
Sementara itu, Persebaya menghadapi Persik Kediri. Sedangkan Persija akan melawan Semen Padang FC di Jakarta International Stadium (JIS).
Atmosfer laga terakhir musim diprediksi meriah karena menjadi momentum penutup kompetisi. Tapi klub-klub juga khawatir flare, petasan, dan kembang api kembali muncul di tribun
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan, menegaskan flare dan petasan sangat dilarang, terutama jika Persib nanti merayakan gelar juara.
“Kami sangat melarang adanya nanti flare, petasan, dan segala macam, spesifik ketika pertandingan berlangsung hingga perayaan angkat piala. Karena prosesi itu berhenti ketika pialanya diangkat,” kata Adhitia Putra Herawan.
Selain melanggar regulasi, flare juga berisiko mengganggu jalannya pertandingan. Asap flare bisa membuat wasit menghentikan laga karena dianggap membahayakan kesehatan pemain dan penonton.
Klub juga berpotensi mendapat hukuman berat dari Komite Disiplin PSSI. Media Officer Persebaya, Jonathan Yohvino, juga meminta Bonek merayakan laga terakhir dengan tertib.
“Ya kalau dari kami mengimbau untuk nanti tanggal 23, satu, ini adalah hajat dan perayaan kita semua. Utamakan keselamatan dan selama proses perayaan tolong ikuti aturan dan regulasi yang ada,” ujar Jonathan Yohvino di laman klub.
Ketua Panitia Pelaksana Persija, Tauhid Indrasjarief, menyebut penggunaan flare bisa berujung denda sangat besar.
“Sekali lagi, regulasinya tetap ada. Saya juga sudah koordinasi dengan Liga. Kata mereka satu flare saja dendanya Rp10 juta dan kalau jumlahnya banyak bisa sampai Rp250 juta,” tutur Tauhid Indrasjarief.
Flare, petasan, dan kembang api memang kerap muncul pada laga terakhir kompetisi. Suporter biasanya ingin merayakan penutup musim sebelum memasuki musim baru. Kklub berharap euforia tetap berjalan aman tanpa merugikan tim akibat sanksi dan denda. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar