Persahabatan AS-Israel Mulai Retak, Pengamat Ekonomi: Pemicu Kenaikkan Harga Minyak Global
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Persahabatan Amerika Serikat dengan Isrsel tampak mulai retak, hal ini bermula dari serangan udara Tel Aviv yang menargetkan sejumlah puluhan depot bahan bakar di Iran.
Serangan tersebut disinyalir sebagai pemicu perselisihan pertama antar dua sekutu tersebut, sejak perang yang dilancarkan pada Iran pada beberapa hari yang lalu, negeri berjulukan Paman Sam merasa dikhianati oleh skala operasi Israel yang jauh melampaui koordinasi awal.
Lebih kurang 30 depot bahan bakar di seluruh Iran, termasuk di ibu kota Teheran, hantam pada hari Sabtu hingga menimbulkan kebakaran hebat dan kepulan asap tebal yang terlihat dari jarak bermil-mil.
Pejabat senior AS yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa skala serangan tersebut jauh melampaui apa yang diperkirakan Washington setelah pihak Israel memberikan notifikasi awal kepada Amerika Serikat.
“Gedung Putih dilaporkan sangat khawatir bahwa serangan terhadap infrastruktur yang digunakan oleh warga sipil Iran akan menjadi bumerang secara strategis. AS memperingatkan bahwa tindakan Israel ini berpotensi menyatukan opini publik Iran untuk mendukung pemerintah mereka, sekaligus memberikan tekanan hebat pada harga energi dunia,” ujar pejabat itu dikutip Al Mayadeen, Senin, dikutip Selasa (10/3)
Menanggapi hal tersebut Pasukan pendudukan Israel sendiri berkilah melalui pernyataan resminya bahwa depot-depot bahan bakar tersebut digunakan oleh pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar ke berbagai sektor, termasuk unit militer. Namun, kekhawatiran AS justru terbukti dengan kepanikan di pasar energi global akibat gambar-gambar depot yang terbakar hebat.
Penasihat Presiden Donald Trump bahkan secara blak-blakan mengatakan kepada Axios bahwa Presiden AS sangat “menentang serangan yang menghancurkan infrastruktur minyak”.
Ia menegaskan bahwa Trump ingin “menghindari segala bentuk tindakan yang dapat mendorong harga bahan bakar melonjak lebih tinggi lagi”.
Dampak dari ketegangan AS-Israel ini langsung terasa di pasar komoditas di mana harga minyak dunia meroket lebih dari 20% pada perdagangan Senin pagi ke level tertinggi sejak 2022. Harga Brent melonjak US$ 18,35 (Rp 311.344) ke level US$ 111,04 (Rp 1.884.015) per barel, sementara WTI naik US$ 20,34 (Rp 345.108) menjadi US$ 111,24 (Rp 1.887.409) per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang kini mulai dihindari oleh kapal-kapal tanker.
Para ekonom memperingatkan bahwa meskipun Arab Saudi mencoba meningkatkan pengiriman melalui Laut Merah, volume tersebut tidak akan cukup untuk menutupi kehilangan pasokan dari Selat Hormuz jika konflik terus memanas akibat langkah sepihak Israel.
Sentimen negatif dari perang ini juga merembet ke pasar saham global, di mana indeks Nikkei Jepang anjlok 6,2% dan pasar Korea Selatan jatuh 7,3%. Di Amerika Serikat, indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga ikut memerah di tengah penguatan nilai tukar dolar AS akibat ketidakpastian geopolitik yang semakin akut. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar