Perkembangan Gempa Sulut, Safitri: Gempa Paling Kencang Selama Saya Tinggal Enam Tahun di Manado
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Telah terjadi Gempa bumi magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, pukul 06.48 WITA (atau 05.48 WIB), Kamis (02/04), guncangannya dirasakan warga di Bitung dan Manado (Sulut) hingga Ternate (Maluku Utara).
Laporan terakhir gempa tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan seorang lainnya terluka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan, kata Tim SAR.
“Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget,” kata Isvara Safitri, warga Kelurahan Teling Atas, Manado, kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (02/04).
“Kepala saya sampai pusing,” tambahnya. Berbagai perabot di kamarnya, termasuk lemari, sempat bergoyang beberapa detik.
Dia juga mendengar apa yang disebutnya seperti “bunyi gemuruh”. Namun dia tidak dapat memastikan sumber suaranya. Safitri memilih keluar dari rumah sesaat setelah gempa.
Di sekitar rumahnya, sudah banyak warga yang sebagian “terlihat panik”. Tidak ada bangunan yang rusak di sekitar rumahnya.
Lokasi tempat tinggal Safitri di tengah Kota Manado, sekitar satu kilometer dari bangunan stadion yang rusak akibat gempa.
“Kayaknya ini gempa paling kencang selama saya tinggal enam tahun di Manado,” ujar Safitri
Gempa yang dirasakan Safitri itu memiliki kekuatan magnitudo 7,6.
Pusat gempanya di wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara pada Kamis, (02/04), pukul 05.48 WIB.
Berdasarkan data pemutakhiran Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, mengonfirmasi satu warga meninggal dunia akibat tertimpa puing bangunan dalam gempa bumi magnitudo 7,6 di Kota Bitung, pagi tadi.
“Seorang warga ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di antara reruntuhan Gedung KONI, lapangan olahraga Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara, setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi pada Kamis (2/4) pukul 05.48 WIB. Korban segera dievakuasi oleh tim gabungan bersama masyarakat sekitar,” kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan laporan perkembangan kaji cepat di lapangan hingga pukul 08.00 WIB, kerusakan infrastruktur juga teridentifikasi, meliputi satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, serta dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan.
Guncangan gempa bumi dirasakan sangat kuat di wilayah Kota Bitung dan Kota Ternate dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik. Kondisi tersebut menimbulkan kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas terkait di berbagai daerah saat ini terus melakukan pemantauan, asesmen, serta koordinasi penanganan darurat.
“Fenomena gempa bumi ini juga telah memicu terjadinya tsunami dengan ketinggian bervariasi di beberapa wilayah. Adapun ketinggian tsunami di Halmahera Barat tercatat mencapai 0,3 meter, Bitung 0,2 meter, Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, dan Belang 0,68 meter,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menegaskan bahwa waktu tiba gelombang dapat berbeda dan gelombang pertama tidak selalu menjadi yang terbesar. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah pesisir diminta tetap waspada dan menjauhi area berisiko.
Hasil pemantauan lanjutan BMKG mencatat 11 aktivitas gempa susulan (aftershock) hingga pukul 06.50 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5. Dua gempa susulan signifikan terjadi pada pukul 06.07 WIB (M 5,5) dan pukul 06.12 WIB (M 5,2) yang tidak berpotensi tsunami.
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap tenang namun waspada, segera menjauhi pantai dan muara sungai, serta melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi apabila merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi.
Masyarakat juga diminta membantu kelompok rentan, menghindari bangunan yang mengalami kerusakan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah.
Pendataan masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait. Informasi mengenai dampak gempa bumi ini akan diperbarui secara berkala.
Laporan Terbaru Korban dan Kerusakkan Akibat Gempa
Dalam data yang dikumpulkan terdapat puluhan pasien dievakuasi secara darurat dari Rumah Sakit (RS) Siloam di Manado, setelah terjadi gempa.
Mereka sebagian ditempatkan di lobi dan halaman rumah sakit, hingga di dalam kendaraan.
Salah seorang pasien, Admini (69), menggambarkan momen-momen penuh kepanikan saat gempa terjadi.
Dia mengaku awalnya tidak menyadari situasi darurat tersebut.
“Kami sementara duduk, minum teh. Mereka kira itu cuma anak goyang-goyang. Tidak tahu kalau itu gempa,” ujarnya.
Namun, situasi berubah ketika teriakan mulai terdengar.
“Anak sudah berteriak, ‘Mbak, Mbak, mari turun, cepat turun.’ Jadi langsung turun cari tangga darurat,” katanya.
Menurut Admini, proses evakuasi tidak mudah.
Dia dan pasien lain sempat kebingungan mencari akses keluar sebelum akhirnya menemukan tangga darurat di bagian belakang gedung.
“Turun lho, semua orang baku susung di situ. Ada yang di kursi roda, ada yang saling bantu. Baku dukung, baku kolok. Semua panik, terutama di lantai lima,” tambahnya.
Setelah berhasil keluar, banyak pasien langsung ditempatkan di area terbuka.
Lobi rumah sakit menjadi titik utama penanganan darurat, sementara sebagian pasien lain dirawat di luar gedung, termasuk di dalam mobil.
Hingga saat ini, pihak rumah sakit belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jumlah korban maupun tingkat kerusakan.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Basarnas Sulawesi Utara, George Mercy Randang, membenarkan, satu orang meninggal dunia di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan gedung olahraga (GOR) milik KONI.
“Tadi pagi sudah dievakuasi. Dan ada satu orang cedera kaki, namun sudah dievakuasi juga,” kata Mercy Randang kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (02/04).
Mercy juga menyebutkan, gempa itu menyebabkan sejumlah kerusakan di sejumlah bangunan di Sulawesi Utara, tetapi sejauh ini tidak ada kerusakan parah.
Pengakuan Warga Saat Terjadi Gempa
Sejumlah warga Bitung, Sulawesi Utara, panik dan berhamburan keluar saat guncangan gempa kuat terasa pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WITA.
Salah satu warga, Yayuk Oktiani (42), mengatakan ia tengah berbelanja di pasar usai mengantar anaknya ke sekolah ketika tiba-tiba terjadi guncangan yang semakin lama semakin besar.
“Orang-orang di pasar langsung lari keluar, beberapa toko mati lampu. Kami pegangan tangan, banyak yang ketakutan,” ujarnya kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon.
Yayuk mengaku langsung teringat anaknya yang bersekolah di MIN 1 Bitung, yang letak sekolahnya berada sangat dekat dengan laut.
Tidak lama setelah gempa pertama, guru-guru di grup sekolah meminta para orang tua untuk menjemput kembali anak-anak mereka, kata Yayuk.
Saat tiba di sekolah, dia mendapati para siswa sudah dievakuasi ke area luar gedung dan dijaga para guru.
“Karena lokasinya di pesisir dan BMKG mengeluarkan status siaga, semua orang jadi khawatir,” katanya.
Warga di sekitar pesisir, kata Yayuk, mulai mengungsi ke dataran lebih tinggi setelah gempa besar terjadi.
Sulawesi Utara merupakan daerah rawan bencana. Yayuk menambahkan, wilayah tempat tinggalnya dilengkapi dengan papan-papan petunjuk evakuasi bencana, baik untuk ancaman dari laut maupun dari arah perbukitan.
“Semoga semuanya aman,” ujarnya. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar