Turun Tipis Harga Minyak Turun 2%, Diplomasi Iran-AS Jadi Penyelamat Pasar
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS –Harga minyak dunia terpantau mengalami penurunan sekitar 2 persen pada akhir perdagangan Rabu (25/3) waktu setempat atau Kamis (26/3) pagi WIB, seiring munculnya harapan konflik di Timur Tengah mereda setelah Iran mempertimbangkan proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 2,27 dollar AS atau 2,2 persen menjadi 102,22 dollar AS per barrel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga Brent bahkan sempat anjlok hingga 7 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 2,03 dollar AS atau 2,2 persen ke level 90,32 dollar AS per barrel.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan, Teheran masih meninjau proposal dari AS untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk, meskipun respons awal yang diberikan bernada negatif.
Ini menunjukkan bahwa Iran sejauh ini belum menolaknya secara langsung.
Di sisi lain, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Presiden AS Donald Trump akan mengambil langkah lebih keras jika Iran tidak mengakui bahwa mereka telah “dikalahkan secara militer”.
Namun secara terbuka, pejabat Iran tetap menunjukkan penolakan terhadap kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan Trump.
Meski demikian, keterlambatan Iran dalam memberikan respons resmi atas proposal berisikan 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan, mengindikasikan adanya pertimbangan internal di Teheran.
Analis dari Ritterbusch and Associates menilai pergerakan harga minyak ke depannya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik tersebut.
“Pasar minyak akan terus bergerak naik-turun mengikuti berita perang Iran, karena Gedung Putih berusaha menonjolkan adanya pembicaraan, sementara penolakan Iran untuk mengakui kemajuan diskusi akan membatasi penurunan harga lebih lanjut,” ungkap mereka.
Dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak April 2022.
Perang yang berlangsung telah hampir menghentikan pengiriman minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cari (LNG) dunia.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan ini sebagai disrupsi pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.
Akibatnya, sekitar 20 juta barrel minyak per hari hilang dari pasar, dengan total kehilangan mencapai sekitar 500 juta barrel sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar