Respon Cepat Bahlil Siapkan Lahan Strategis Khusus Investor AS Pasca Pertemuan Prabowo-Trump
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia langsung bergerak usai pertemuan presiden Prabowo Subianto dengan presiden Donald Trump. Tanpa basa-basi Indonesia secara terbuka membuka pintu bagi investor yang berasal dari negeri paman sam tersebut untuk mengurus tambang yang ada di Indonesia.
Ia menegaskan kementeriannya tengah melakukan pemetaan serius pada wilayah-wilayah tambang yang memiliki peluang yang menjanjikan untuk ditawarkan pada investor AS.
“Dalam konteks perolehan wilayah pertambangan, kami akan menawarkan kepada mereka (perusahaan AS). Mana perusahaan yang ingin masuk, langsung kita fasilitasi,” ujar Bahlil dengan gaya bicaranya yang lugas pada keterangan resminya saat mendampingi presiden prabowo dalam kunjungannya ke amerika serikat pada Jumat (20/2).
Bahlil menambahkan bahwa dirinya telah mengantongi peta lokasi pertambangan yang “seksi” untuk digarap. Pemetaan ini dilakukan agar kerja sama ekonomi kedua negara tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi segera mewujud di lapangan.
Secara khusus ia menyebut nikel dan logam tanah jarang (rare earth elements) menjadi menu utama yang ditawarkan kepada pebisnis Amerika.
Menurutnya, pemerintah akan memberikan prioritas dan ruang seluas-luasnya bagi pengusaha AS untuk menanamkan modalnya. Namun, ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter di dalam negeri.
“Kalau mereka mau bangun smelter nikel di Indonesia, kita dorong habis. Kita kasih ruang sebesar-besarnya, sama seperti kita memperlakukan investor dari negara lain,” tegas Bahlil.
Hal tersebut berkaitan dengan erat cita-cita Indonesia yang ingin sebagai pemain kunci dalam rantai pasokan global mineral kritikal melalui hilirisasi. Dengan menggandeng kekuatan kapital dan teknologi dari AS, pemerintah berharap nilai tambah mineral Indonesia tetap tertinggal di dalam negeri untuk menggerakkan ekonomi nasional.
“Biar clear nih, biar tidak ada salah interpretasi. Kami tidak membuka ekspor barang mentah. Sama sekali tidak. Yang dimaksud di sini adalah, setelah mereka melakukan pemurnian di dalam negeri, barulah hasilnya bisa diekspor,” tutupnya.
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar