Indonesia Masuk Peringkat Ke-5 Sebagai Negara Pengidap Diabetes Terbesar di Dunia
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA. NEWS – Pola makan tinggi gula, kurang gerak, dan kebiasaan merokok memperbesar risiko, Indonesia kini menempati posisi kelima dunia dalam jumlah penyandang diabetes, dengan banyak kasus yang belum terdiagnosis di tengah tingginya beban penyakit tersebut.
Data International Diabetes Federation (IDF) 2025 mencatat sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes. Jumlah itu menempatkan Indonesia di bawah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan. Secara global, jumlah penyandang diabetes diperkirakan mencapai 589 juta orang atau sekitar 11,1 persen populasi dunia.
Kementerian Kesehatan menilai persoalan yang dihadapi bukan hanya besarnya jumlah kasus, tetapi juga masih rendahnya deteksi. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes menyebut sebagian besar kasus diabetes di Indonesia belum diketahui oleh penderitanya.
Dari total kasus diabetes pada 2024, hanya sekitar 35,4 persen yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan. Dari kelompok yang sudah didiagnosis, sekitar 68,1 persen tercatat mendapatkan pengobatan, sementara yang berhasil mengendalikan penyakitnya hanya 20,2 persen.
“Permasalahannya, yang belum didiagnosis masih banyak. Padahal, diabetes melitus (DM) juga menjadi penyebab disabilitas. Jadi, kita jangan berpikir bahwa sakit DM itu tenang-tenang saja,” kata Direktur P2PTM Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dalam diskusi Kolaborasi Strategis Bersama Kemenkes dan PERKENI, dalam keterangan resminya pada Selasa (21/4/2026).
Menurut Nadia, diabetes kerap tidak disadari karena gejalanya tidak selalu muncul dengan jelas pada tahap awal. Padahal, kadar gula yang tinggi dalam darah dapat merusak pembuluh darah dan memicu gangguan pada berbagai organ.
Nadia menjelaskan kerusakan pembuluh darah akibat diabetes dapat berdampak pada ginjal, mata, hingga jantung. Di Indonesia, diabetes juga masuk dalam kelompok penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi bersama stroke, penyakit jantung, dan sirosis.
“Orang-orang diabetes melitus itu cenderung kalau diabetes melitus-nya tidak benar, dia berasanya sakit ginjal,” katanya.
Ia menambahkan diabetes merupakan penyakit tidak menular yang sangat dipengaruhi perilaku sehari-hari. Risiko itu, menurut dia, berkaitan dengan pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok.
Salah satu pola konsumsi yang disoroti adalah meningkatnya minuman manis, baik kemasan maupun siap saji, terutama di kalangan anak muda.
“Fakta nyata, kan minuman manis yang berkemasan maupun yang siap saji itu terus-menerus meningkat. Siapa yang tidak kenal dengan berbagai jenis kopi, berbagai jenis boba, berbagai jenis teh,” kata Nadia.
Menurut dia, pencegahan diabetes perlu dimulai dari perubahan perilaku, termasuk mengurangi konsumsi gula, meningkatkan aktivitas fisik, dan rutin memeriksa kesehatan. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar