Anjuran Doa Setelah Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Dan Dzikir Witir
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Karena lembur jadi tidak tarawih, apakah berdosa? beginilah penjelasan ustaz
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Ibadah puasa ramadhan datang sekali dalam setahun dan dirayakan sukacita oleh umat muslim seluruh dunia. selain melaksanakan puasa di siang hari, umat muslim dianjurkan untuk melengkapi ibadah ramdhan mereka dengan melaksanakan shalat tarawih dan witir berjamaah di masjid.
Untuk melengkapi ibadah tersebut terdapat doa setelah sholat tarawih sesuai sunah dan dzikir sesudah witir yang merujuk pada sejumlah hadits. Anjuran sejumlah ulama mengenai doa tarawih dan witir lengkap beserta dzikir juga dapat diamalkan oleh umat Islam.
Salat Tarawih termasuk ibadah pada malam hari di bulan Ramadan yang disunnahkan. Mengenai waktu pelaksanaan sholat tarawih adalah setelah isya hingga mendekati subuh.
Di Indonesia, umat Islam menambahkan doa dan wirid khusus usai salat tarawih dan witir yang umumnya dilakukan secara berjemaah di masjid atau musala. Merujuk kepada dalil hadits dan anjuran ulama, beberapa bacaan setelah tarawih dan witir berupa doa beserta dzikir atau wirid adalah sebagai berikut.
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab Adalah Rasulullah saw ketika salat witir membaca surat“Sabbihisma rabbikal a’la” (al-A’la), dan surat “Qul ya ayyuhal kafirun” (al-Kafirun) dan surat “Qul huwallahu ahad” (al-Ikhlas). Kemudian apabila telah selesai mengucapkan salam, beliau membaca“Subhanal malikil quddus” tiga kali.” [H.R. an-Nasa’i].
Berikut terdapat doa yang dianurkan oleh Nabi Muhammad ketika selesai melaksanakan shalat tarawih selama bulan ramadhan.
Doa Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fuanni biasa dibaca usai shalat tarawih. Bacaan doa tersebut bersumber dari hadits berikut:
“Aisyah Ra. berkata, ‘Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?’ Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.” (HR Ibnu Majah).
Tidak ada yang tahu kapan terjadinya malam lailatul qadar turun pada bulan Ramadhan, kecuali Allah SWT. Meskipun ada anjuran untuk memperbanyak ibadah pada malam hari di sepertiga akhir Ramadhan, Lailatul Qadr bisa turun kapan saja pada salah satu malam di bulan puasa sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Maka itu, doa di atas bisa dibaca pada setiap malam bulan Ramadhan, termasuk setelah sholat tarawih. Anjuran “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni baca setiap jeda solat tarawih” juga boleh diamalkan. Doa tersebut bisa menjadi sejenis wirid setelah tarawih.
Setelah melakukan sholat tarawih dan kemudian diakhiri dengan witir, bacaan wirid atau dzikir sesuai sunnah yang bisa diamalkan dapat merujuk pada sejumlah hadits.
Berikut dzikir dan doa setelah sholat witir sesuai dengan sunnah
فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ
Artinya:
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari witirnya, beliau membaca ‘subhaanal malikil qudduus (sebanyak tiga kali)’, beliau memanjangkan di akhirnya.” (HR. An-Nasa’i no. 1700, Ibnu Majah no. 1182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Adapun bacaan tasbih yang dapat dibaca setelah tuntas mengerjakan tarawih sekaligus witir adalah sebagai berikut:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Arab-Latin: Subhānal malikil quddūs.
Artinya: “Mahasuci Tuhan yang kudus,”
Adapun bacaan wirid sesudah “Subhānal malikil quddūs” dilafalkan 3 kali sebagai berikut:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
Arab Latin:
Subbūhun, quddūsun, rabbunā wa rabbul malā’ikati war rūh.
Artinya:
“Suci dan qudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Jibril.”
Dzikir sesudah witir di atas didasarkan pada sejumlah hadits. Salah satunya ialah sebagai berikut:
Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw melakukan witir dengan membaca Sabbihis—ma rabbikal-a‘la, qul ya ayyuhal-kafirun, dan qul huwallahu ahad; dan apabila selesai salam, beliau membaca Subhanal-Malikil Quddus [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih] tiga kali dan menyaringkan suaranya dengan yang ketiga, serta mengucapkan rabbilmalaikati war-ruh [Tuhan Malaikat dan ruh],” [HR ath-Thabarani, di dalam al-Mu‘jam al-Ausath].
“Dari ‘Aisyah Ra, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku mengetahui waktu malam al-qadr, apa yang akan aku katakan pada waktu itu?” Beliau menjawab: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun karîm tuhibbul-‘afwa fa’fu ‘anni (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf lagi Mahapemurah, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”. (HR. Tirmidzi 3453)
Sesuai hadits di atas, bacaan dzikir pujian atas keluasan ampunan Allah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Arab Latin:
Allāhumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa, fa‘fu ‘annī.
Artinya:
“Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku.”
Wirid ini bersumber kepada hadis sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عَمْرٍو الْفَزَارِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada Kami Musa bin Isma’il, telah menceritakan kepada Kami Hammad dari Hisyam bin ‘Amr Al Fazari dari Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dari Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah Saw. pada akhir salat witirnya membaca:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك
(Allahumma innii a’uudzu biridhooka min sakhothika, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzubika minka laa uhshii tsanaaan ‘alaika, anta kama atsnaita ala nafsik.)
(“Tuhanku, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu dan kepada afiat-Mu dari siksa-Mu. Aku meminta perlindungan-Mu dari murka-Mu. Aku tidak (sanggup) membilang pujian-Mu sebanyak Kau memuji diri-Mu sendiri,”) (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar