Imbas Konflik AS-Iran, Harga Minyak dunia Meroket Lebih Dari 7%
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disusul aksi balasan di kawasan Teluk, menimbulkan lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 7 persen dalam sehari.
Dampaknya bukan hanya di sektor bursa komoditas global, hal tersebut tekanannya berpotensi menjalar ke rupiah, harga BBM, hingga inflasi domestik.
Data perdagangan awal pekan menunjukkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak dari sekitar 67 dolar AS per barel pada Jumat menjadi 72 dolar AS per barel pada Senin. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,12 juta per barel, naik dari sekitar Rp1,03 juta.
Sementara itu, minyak Brent yang menjadi patokan internasional naik dari 72,87 dolar AS menjadi 78,55 dolar AS per barel. Dalam nilai rupiah, lonjakan ini berarti kenaikan dari sekitar Rp1,13 juta menjadi sekitar Rp1,22 juta per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik yang melibatkan jalur distribusi strategis.
Sejalan dengan perkembangan situasi tersebut, sejumlah institusi perbankan melakukan pembaruan terhadap proyeksi pasar energi. Barclays, dalam laporan terbarunya, merevisi perkiraan harga minyak berjangka Brent dari US$ 80 per barel menjadi sekitar US$ 100 per barel.
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mengatakan bahwa Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis, terutama dengan lokasinya yang berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman. Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur laut paling penting di dunia, dengan sekitar 20% produksi minyak global melintasi jalur tersebut.
Salah satu faktor utama lonjakan harga adalah terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur sempit penghubung Teluk Persia dengan laut lepas. Sekitar 15 juta barel minyak per hari—atau hampir 20 persen pasokan minyak global—melewati jalur ini.
Menurut lembaga riset energi Rystad Energy, Selat Hormuz merupakan titik paling vital dalam perdagangan energi dunia. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Iran mengandalkan jalur ini untuk ekspor minyak dan gas.
Wakil Presiden Senior Rystad untuk analisis geopolitik, Jorge León, menilai pasar kini lebih mencemaskan kelancaran distribusi ketimbang kapasitas produksi di atas kertas.
“Jika arus pengiriman melalui Teluk terhambat, tambahan produksi tidak akan langsung meredakan tekanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sebelumnya, Iran sempat menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada pertengahan Februari untuk latihan militer. Langkah itu saja sudah mendorong harga minyak naik sekitar 6 persen dalam beberapa hari.
Iran sendiri mengekspor sekitar 1,6 juta barel per hari, sebagian besar ke China. Jika ekspor ini tersendat, negara pengimpor harus mencari pasokan alternatif—yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikkan harga minyak global berpotensi meningkatkan biaya impor energi. Dampaknya tentu jelas adanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan potensi penyesuaian harga BBM menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Kenaikan harga energi juga berdampak berantai pada sektor lain, termasuk transportasi dan pangan. Dalam kondisi inflasi global yang masih relatif tinggi, lonjakan harga minyak dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menjaga stabilitas harga domestik. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar