Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Jakarta Ecotourism Festival 2026, Edukasi Sekaligus Wisata Jaga Mangrove

Jakarta Ecotourism Festival 2026, Edukasi Sekaligus Wisata Jaga Mangrove

  • account_circle Adi Bima
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INFOKITA.NEWS – Sebagai Ibukota Negara Jakarta selalu identik dengan destinasi perkotaan (urban tourism), pusat perbelanjaan, museum, dan hiburan malam.

Namun, wajah pariwisata Ibu Kota kini terus diperluas melalui pendekatan lingkungan hidup. Salah satunya melalui Jakarta Ecotourism Festival (JEF) 2026 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta.

Kepala Disparekraf DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan, pendekatan tersebut menjadi dasar pelaksanaan JEF 2026.

“Festival ini dirancang untuk memperkenalkan destinasi berbasis lingkungan sekaligus membangun pemahaman generasi muda mengenai pentingnya pariwisata berkelanjutan,” katanya.

Ketua Subkelompok Pemasaran Pariwisata Dalam Negeri Disparekraf DKI Jakarta Ponco Atmoko mengatakan, JEF tidak semata-mata mengajak peserta berwisata, tetapi juga mempertemukan aktivitas rekreasi dengan edukasi lingkungan.

“Jakarta tidak hanya wisata perkotaan, tetapi ada wisata lingkungan yang menarik untuk anak muda dan pelajar,” ujar Ponco.

Memasuki tahun kedua, JEF mengajak peserta mengunjungi berbagai destinasi yang memiliki aktivitas terkait lingkungan.

Beberapa aktivitas yang menjadi bagian dari agenda tersebut antara lain mengunjungi ruang terbuka hijau, taman kota, fasilitas pengolahan sampah, agrowisata, hingga kawasan konservasi mangrove.

Rangkaian kegiatan tidak hanya berlangsung di wilayah daratan Jakarta. Kepulauan Seribu menjadi bagian penting karena menawarkan konteks ekowisata yang berbeda, terutama terkait ekosistem pesisir dan laut.

Beberapa lokasi yang masuk dalam program antara lain Pulau Tidung, Pulau Pramuka, serta Desa Wisata Laguna.

Aktivitas di kawasan kepulauan diarahkan pada pengenalan konservasi, termasuk penanaman mangrove. Bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, pendekatan tersebut memiliki arti strategis.

Pasalnya, ekowisata tidak cukup dipahami sebagai kegiatan membawa wisatawan ke ruang hijau atau kawasan pesisir.

Lebih dari itu, destinasi juga harus mampu mempertemukan kepentingan rekreasi, pendidikan, konservasi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Seluruh fasilitas peserta, mulai dari transportasi, tiket masuk destinasi, pemandu wisata, konsumsi, hingga akomodasi, dibiayai penuh oleh Pemprov DKI Jakarta melalui skema pendaftaran terbuka (open call).

Peserta berasal dari kalangan SMA dan SMK yang memiliki peminatan pariwisata, perguruan tinggi dengan program terkait pariwisata, media, komunitas, serta masyarakat melalui mekanisme open call.

Skema tersebut membuat JEF memiliki fungsi edukatif yang kuat. Peserta tidak hanya menjadi wisatawan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran mengenai perilaku wisata yang lebih bertanggung jawab.

Salah satunya melalui kebiasaan mengurangi penggunaan plastik serta mendorong penggunaan material yang mudah terurai atau didaur ulang.

Sampah yang dihasilkan selama perjalanan juga diarahkan untuk dipilah dan dibawa ke lokasi pengolahan sampah.

Pendekatan itu sejalan dengan kebutuhan Jakarta untuk membangun perilaku wisata yang tidak berhenti pada slogan “ramah lingkungan”, tetapi diterapkan dalam aktivitas perjalanan.
Namun, penerapan konsep tersebut juga membuat tantangan JEF menjadi lebih kompleks.

Ponco mengatakan, penyelenggaraan JEF 2026 belum memiliki pengukuran jejak karbon secara konkret.

Dia menyebutkan, pihaknya telah membahas kemungkinan menghitung emisi karbon kegiatan bersama akademisi.

Namun, kebutuhan tenaga ahli belum dapat dibiayai melalui anggaran 2026. Dengan demikian, klaim mengenai keberlanjutan kegiatan masih lebih banyak berada pada aspek edukasi, perilaku peserta, dan pemilihan destinasi.

Sementara itu, dampak lingkungan yang terukur belum tersedia. Padahal, penghitungan jejak karbon dapat menjadi instrumen penting untuk mengevaluasi perjalanan wisata secara menyeluruh, mulai dari mobilitas peserta, konsumsi energi, penggunaan material, konsumsi makanan, pengelolaan sampah, hingga aktivitas di destinasi.

Pengukuran tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah mitigasi pada penyelenggaraan berikutnya. Dengan demikian, rencana melibatkan tenaga ahli pada masa mendatang dapat menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur peningkatan kualitas JEF, bukan sekadar menambah jumlah peserta atau destinasi.

Pengembangan JEF ke depan juga diarahkan pada perluasan destinasi. Disparekraf DKI Jakarta masih mengkaji kawasan lain yang memiliki karakter sesuai dengan prinsip ekowisata.

Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah memasukkan kawasan sungai ke dalam program.

Aktivitas seperti susur sungai dapat dikembangkan bukan hanya sebagai atraksi wisata, tetapi juga sebagai sarana untuk mengenalkan persoalan kualitas lingkungan, kebersihan sungai, ekosistem air, dan peran masyarakat dalam menjaga kawasan tersebut.

Pendekatan tersebut penting karena ekowisata Jakarta tidak semestinya berhenti pada destinasi yang secara visual sudah “hijau”.

Kawasan yang menghadapi persoalan lingkungan justru dapat menjadi ruang edukasi untuk menunjukkan hubungan antara aktivitas manusia, kualitas lingkungan, dan keberlanjutan pariwisata.

Pada saat yang sama, perluasan destinasi harus dilakukan secara selektif. Semakin banyak lokasi yang dikunjungi bukan berarti semakin berkelanjutan.

Daya dukung lingkungan, kapasitas pengunjung, pengelolaan sampah, keterlibatan masyarakat, serta manfaat ekonomi lokal harus menjadi bagian dari evaluasi.

JEF 2026 juga menghadapi pertanyaan mengenai kesinambungan program. Pemprov DKI Jakarta telah mengusulkan agar program ini terus dilaksanakan.

Namun, keberlanjutan program tetap bergantung pada kemampuan daerah dalam menyediakan anggaran. Persoalan ini penting karena prinsip pariwisata berkelanjutan membutuhkan konsistensi.

Edukasi lingkungan tidak cukup dilakukan melalui satu festival, sedangkan perubahan perilaku wisatawan dan pengelolaan destinasi membutuhkan proses jangka panjang.

Maka dari itu, keberhasilan JEF idealnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta dan destinasi yang dikunjungi. Indikator lain, seperti pengurangan sampah, jejak karbon perjalanan, keterlibatan komunitas, manfaat ekonomi masyarakat, perubahan perilaku peserta, serta kondisi lingkungan destinasi, dapat menjadi ukuran yang lebih substantif.

Jika indikator tersebut mulai dibangun, Jakarta Ecotourism Festival berpeluang berkembang dari sekadar agenda promosi wisata menjadi ruang pembelajaran pariwisata berkelanjutan di tengah kota metropolitan.

Jakarta pun memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa wisata lingkungan bukan sekadar perjalanan menuju ruang hijau, melainkan cara baru menikmati kota sekaligus menjaga lingkungan yang menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. ***

  • Penulis: Adi Bima

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dadan Hindayana Tepis Isu 32 Ribu Laptop dan Alat Makan Harga Fantastis Rp 4 Miliar

    Dadan Hindayana Tepis Isu 32 Ribu Laptop dan Alat Makan Harga Fantastis Rp 4 Miliar

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 48
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjawab kabar pengadaan 32 ribu unit laptop dan alat makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp4 triliun. Dirinya menegaskan angka tersebut tidak sesuai dengan realisasi pengadaan yang jauh lebih kecil. “Pengadaan itu ada, tetapi tidak sebanyak yang disebutkan. Misalnya laptop 32 ribu unit dan alat […]

  • Finalis Putri Indonesia 2024 Jadi Tersangka Facelift Ilegal, YPI Ambil Langkah Tegas Cabut Gelar Puteri Indonesia Tersebut

    Finalis Putri Indonesia 2024 Jadi Tersangka Facelift Ilegal, YPI Ambil Langkah Tegas Cabut Gelar Puteri Indonesia Tersebut

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 61
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Terungkapnya praktik facelift ilegal yang dilakukan oleh Puteri Indonesia 2024Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro menyampaikan bahwa kasus ini bermula dari laporan seorang korban berinisial NS. Korban menjalani tindakan facelift dan eyebrow facelift di Klinik Arauna Beauty yang berlokasi di Jalan Tengku Bey, Pekanbaru, pada 4 Juli 2025. Namun, hasil […]

  • Ternyata Inilah Perbedaan G30S, Gestapu, dan Gestok Dalam Berbagai Sudut Pandang Sejarah Indonesia

    Ternyata Inilah Perbedaan G30S, Gestapu, dan Gestok Dalam Berbagai Sudut Pandang Sejarah Indonesia

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 29
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Setiap 30 September, bangsa ini mengingat malam kelam 1965 bagi bangsa Indonesia. Namun nama yang dipakai untuk menyebutnya ternyata menyimpan pertarungan tafsir dan kepentingan politik. Malam Kamis, 30 September 1965, menjelang dini hari 1 Oktober, enam perwira tinggi militer Indonesia menjadi korban. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan beberapa nama sekaligus: G30S, Gestapu, dan […]

  • Presiden Prabowo Tanya Menkes Persiapan Alat Kesehatan di Lampung, Menkes Budi: Sedang On The Way

    Presiden Prabowo Tanya Menkes Persiapan Alat Kesehatan di Lampung, Menkes Budi: Sedang On The Way

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 31
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Presiden RI Prabowo Subianto mencecar pertanyaan ke Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait kelengkapan alat-alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Muhammad Thohir Krui, Pesisir Barat, Lampung, yang baru diresmikan hari ini, Rabu (10/6/2026). Awalnya, Budi menyampaikan laporan sekaligus berterima kasih atas dukungan Prabowo kepada Kementerian Kesehatan dan masyarakat di Pesisir […]

  • Gempa Bumi Berkekuatan 6,1 M Kembali Guncang NTT

    Gempa Bumi Berkekuatan 6,1 M Kembali Guncang NTT

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 23
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Gempa bumi magnitudo 6,1 mengguncang Kabupaten Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10/2026) pukul 06.55 Wita. Getaran gempa terasa hingga Labuan Bajo, Manggarai Barat, dan wilayah lain di NTT. “Guncangan keras sekali. Saya sedang suap anak, langsung lari keluar,” ujar warga Labuan Bajo, Karolina, sambil menggendong anaknya. Getaran gempa juga […]

  • Kesaksian Eks Cakrabirawa, Ishak Bahar Pernah Melihat Soeharto, Letkol Untung dan Kolonel Latief Sebelum Peristiwa G30S

    Kesaksian Eks Cakrabirawa, Ishak Bahar Pernah Melihat Soeharto, Letkol Untung dan Kolonel Latief Sebelum Peristiwa G30S

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 24
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Eks anggota Cakrabirawa Ishak Bahar mengaku melihat Letkol Untung dan Kolonel Latief bertemu Soeharto di RSPAD Gatot Subroto sebelum G30S, belasan tahun dipenjara tanpa proses peradilan Ishak Bahar adalah anggota Cakrabirawa asal Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Dia bukan orang sembarangan.  Cakrabirawa sendiri adalah operator G30S yang menewaskan tujuh perwira tinggi TNI di Lobangbuaya. […]

expand_less