Harga Minyak Acuan Dunia Naik 1,2 % Imbas Serangan AS ke Arab Saudi
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Harga minyak acuan dunia sudah dipastikan naik pada Jumat (10/4). Hal ini terjadi usai Arab Saudi menyatakan kapasitas produksi minyak mereka berkurang akibat serangan Perang Timur Tengah ke infrastruktur energi.
Minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) harganya naik 0,7% menjadi US$ 98,53 per barel, sementara minyak Brent naik 1,2% menjadi US$ 95,92 per barel.Kantor berita resmi Arab Saudi menyebut kapasitas produksi minyak negara tersebut berkurang sekitar 600.000 barel per hari akibat serangan terhadap infrastruktur energi.
Menurut perhitungan Bloomberg, angka ini setara dengan sekitar 10% dari ekspor minyak mentah normal Saudi.Tak hanya produksi, kapasitas aliran harian Arab Saudi melalui stasiun pemompaan yang melayani pipa East-West jugaberkurang 700 ribu barel pekan ini. Pipa tersebut digunakan Saudi untukmengekspor minyak melalui Laut Merah.
“Penurunan aliran pipa East-Westmelemahkan strategi Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz dan menyoroti risiko pasokan yang masih berlanjut. Hal ini semakin mempersulit ketersediaan minyak mentah di Asia.” kata analis minyak global di BloombergNEF, Mohith Velamala dikutip dari Bloomberg, Jumat (10/4).
Negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, termasuk Jepang mulai memanfaatkan cadangan minyaknya. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan mereka akan melepas sekitar 20 hari pasokan dari stoknya pada Mei.
Amerika Serikat juga menawarkan hingga 30 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve melalui skema pertukaran untuk meredam kenaikan biaya energi akibat gangguan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakandirinya sangat optimistis terhadaptercapainya kesepakatan dengan Iran, serta menyebut Israel akan menurunkanintensitas serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Teheran di Lebanon.Kendati demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan serangan yang berlangsung tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS- Iran.
“Ada laporan Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Mereka seharusnya tidak melakukannya, dan jika benar, mereka harus segera menghentikannya!” tulis Trump di media sosial pada Kamis.
Trump juga mengancam Iran terkait pungutan biaya di Selat Hormuz.”Ada laporan Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Mereka seharusnya tidak melakukannya, dan jika benar, mereka harus segera menghentikannya!” tulis Trump di media sosial pada Kamis.Konflik antara AS dan Iran terus berlanjut meski fokusnya sudah beralih ke Islamabad.
Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan dengan pejabat Iran pada Sabtu.Isu utama adalah terkait Selat Hormuz, yang hampir tertutup sejak akhir Februari dan telah mengganggu sekitar seperlima arus minyak global serta gas alam cair. Kondisi ini memicu guncangan pasokan yang signifikan.
“Pasar kembali fokus pada realitas arus pasokan melalui Selat Hormuz, yang masih jauh dari normal dan kecil kemungkinan pulih dengan cepat,” kata trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin.
Pasar minyak sangat bergejolak sejak perang dimulai. Situasi tersebut memaksa pelaku pasar mengambil posisi lebih kecil dalam jangka waktu lebih singkat karena batas risiko.
Harga minyak acuan berfluktuasi rata-rata lebih dari US$ 9 per hari sejak konflik pecah, menjadi pergerakan harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar