Awas Tertipu! Ini Cara Mengenal 3 Gejala Awal Campak
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Meningkatnya kasus campak dalam beberapa waktu terakhir ini, sehingga masyarakat kini harus mulai mewaspadai penyebaran dan penularan penaykit ini.
Campak selama ini identik dengan ruam merah di kulit. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa gejala campak justru sering menyerupai flu biasa. Akibatnya, kondisi ini kerap terlambat dikenali dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, Subsp. PTI (K), FINASIM menjelaskan bahwa campak memiliki fase awal yang disebut sebagai fenomena prodromal, yaitu gejala yang muncul sebelum tanda khas terlihat.
“Pada fase awal, gejala campak sering tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dengan infeksi virus lain,” ujar Adityo.
Dalam dunia kesehatan, gejala awal campak dikenal dengan istilah 3C, yaitu:
- Cough (batuk)
- Coryza (pilek)
- Conjunctivitis (mata merah)
Menurut Adityo, ketiga gejala ini sering dianggap sebagai flu biasa. Padahal, jika muncul bersamaan, bisa menjadi tanda awal infeksi campak.
“Kalau hanya satu gejala, memang sulit dibedakan. Tapi kalau tiga-tiganya muncul, kita harus mulai curiga ke arah campak,” ujar Adityo.
Sayangnya, karena gejalanya ringan di awal, banyak pasien baru mencari pertolongan setelah muncul ruam di kulit.
Berbeda dengan anggapan umum, ruam bukanlah gejala pertama campak. Ruam biasanya muncul beberapa hari setelah virus menyebar di dalam tubuh.
Virus campak masuk melalui saluran pernapasan, lalu menyebar ke aliran darah. Dari sana, virus akan memicu reaksi pada kulit hingga muncul ruam khas.
“Ruam terjadi karena adanya respons tubuh terhadap virus yang sudah menyebar melalui darah dan sistem limfatik,” kata Adityo.
Ruam biasanya dimulai dari wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi ini menjadi tanda bahwa infeksi sudah memasuki tahap lebih lanjut.
Selain ruam di kulit, ada satu tanda khas yang sering luput dari perhatian, yaitu bercak Koplik.
Bercak ini muncul di bagian dalam pipi, berwarna putih kebiruan, dan merupakan salah satu tanda spesifik campak. Meski tidak selalu muncul pada semua pasien, keberadaannya sangat membantu dalam menegakkan diagnosis.
“Kalau ditemukan bercak Koplik, itu sangat khas untuk campak. Tapi kalau tidak ada, bukan berarti bukan campak,” ujar Adityo.
Oleh sebab itu, pemeriksaan oleh tenaga medis sangat penting untuk memastikan diagnosis.
Salah satu tantangan dalam mendeteksi campak adalah kemiripan gejalanya dengan infeksi virus lain, seperti flu atau infeksi saluran pernapasan atas.
Pada tahap awal, kata Adityo, tubuh belum menunjukkan tanda spesifik. Gejala baru menjadi lebih jelas setelah penyakit berkembang.
“Inilah mengapa dokter tidak hanya melihat gejala, tapi juga mencari tanda klinis. Diagnosis itu kombinasi antara gejala dan tanda,” tambahnya.
Mengenali gejala campak sejak awal sangat penting untuk mencegah penularan dan komplikasi. Campak bukan sekadar penyakit ringan, terutama pada orang dewasa atau individu dengan daya tahan tubuh lemah.
Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia, diare berat, hingga gangguan pada sistem saraf.
Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal, terutama jika mengalami batuk, pilek, dan mata merah secara bersamaan.
“Jangan menunggu ruam muncul. Justru pada fase awal itulah kita bisa mencegah kondisi menjadi lebih berat,” pungkasnya. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar