Israel Tolak Bertanggung Jawab Atas Gugurnya 3 Pasukan Perdamaian TNI di Lebanon
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Dunia tengah mengecam dan meminta pertanggung jawaban Israe akibat serangannya yang membuat Tiga prajurit TNI gugur dalam misi perdamaian di Lebanon selatan. Alih-alih bertanggung jawab, Pihak Israel justru membantah keterlibatan langsung. Mereka menolak bertanggung jawab. Kini malah menyinggung kemungkinan peran Hizbullah dan Iran.
Ketiga prajurit itu merupakan bagian dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang selama ini bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik. Namun, situasi di lapangan yang kian memanas membuat risiko terhadap pasukan penjaga perdamaian semakin tinggi.
Militer Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa insiden tersebut masih dalam tahap investigasi menyeluruh. Mereka menilai belum bisa dipastikan apakah serangan berasal dari operasi militer Israel atau terkait aktivitas kelompok Hizbullah yang disebut mendapat dukungan dari Iran.
Dalam pernyataan resminya, Israel menegaskan bahwa lokasi kejadian merupakan zona pertempuran aktif. Oleh karena itu, mereka meminta publik internasional tidak terburu-buru menarik kesimpulan terkait pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
“Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF,” tulis militer Israel di Telegram, dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/3).
“Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif, di mana mereka beroperasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran,” imbuh unggahan militer Israel tersebut.
Akibat serangan itu pula Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras insiden yang menewaskan prajurit TNI tersebut. Indonesia mendesak agar dilakukan penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel untuk mengungkap fakta di balik kejadian ini.
“Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan,” kata Kemlu Indonesia melalui akun X @Kemlu_RI, Senin (30/03).
Selain itu, pemerintah juga menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan.
Tidak hanya Indonesia, Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, turut menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia juga mengungkapkan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia.
Guterres menegaskan pentingnya seluruh pihak mematuhi hukum internasional, khususnya dalam menjamin keselamatan personel dan aset PBB yang bertugas di wilayah konflik.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Kondisi tersebut menjadikan kawasan semakin rawan, bahkan bagi pasukan penjaga perdamaian sekalipun.
Tragedi ini menjadi pengingat nyata akan besarnya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di wilayah konflik, sekaligus menegaskan pentingnya upaya penyelesaian damai melalui jalur diplomasi internasional.
Pakar hukum internasional menilai serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB merupakan pelanggaran hukum internasional.
Konvensi internasional mengatur perlindungan terhadap personel PBB, sehingga negara atau pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban, baik dalam bentuk tanggung jawab negara maupun pidana individu.
Saat ini UNIFIL memiliki sekitar 10.000 personel dari berbagai negara, termasuk sekitar 1.200 prajurit TNI. Investigasi internasional masih berlangsung untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar