Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Resiko Penularan Campak Masyarakat Diimbau Memanfaatkan Imunisasi, Ketua IDAI: Itu Bukan Penyakit Sepele

Resiko Penularan Campak Masyarakat Diimbau Memanfaatkan Imunisasi, Ketua IDAI: Itu Bukan Penyakit Sepele

  • account_circle Adi Bima
  • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
  • visibility 43
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INFOKITA.NEWS – Penyakit Campak masih ditemukan di masyarakat dan berpotensi membahayakan. Infeksi ini disebabkan oleh virus yang sangat mudah menular melalui udara maupun kontak dekat antarindividu, sehingga penyebarannya sulit dikendalikan jika tidak diwaspadai sejak dini.

Di kalangan masyarakat Makassar, campak atau morbili dikenal dengan sebutan “sarampa”. Pada tahap awal, gejala penyakit ini kerap disalahartikan sebagai kondisi ringan karena ditandai munculnya ruam merah di kulit.

Imunisasi menjadi langkah utama dalam mencegah penyebaran Campak di masyarakat. Upaya ini dinilai paling efektif karena mampu membentuk kekebalan tubuh sekaligus menekan penularan penyakit yang sangat mudah menyebar melalui udara.

Program imunisasi campak sendiri tersedia secara gratis di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan posyandu. Pemerintah telah menjadikannya bagian dari program wajib karena campak termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

“Campak bisa dicegah dengan imunisasi dan program ini tersedia gratis,” ujar dr. A. Husni Esa Darussalam saat berbincang di Pro 1 RRI Makassar, Minggu (26/4/2026)

Pemberian imunisasi dilakukan sejak usia bayi hingga anak sekolah. Jadwal imunisasi campak dimulai pada usia sembilan bulan, kemudian diberikan dosis lanjutan atau booster pada usia 18 bulan serta saat anak memasuki usia sekolah dasar.

Ia menekankan pentingnya kepatuhan orang tua dalam mengikuti jadwal vaksinasi anak. Namun, menurutnya sempat terjadi penurunan minat imunisasi setelah pandemi, yang diperparah oleh beredarnya informasi keliru di media sosial.
“Untuk mencapai herd immunity, lebih dari 90 persen populasi harus diimunisasi,” jelas dr. Husni. Tanpa cakupan tersebut, risiko penyebaran penyakit akan meningkat dan memicu terjadinya wabah di lingkungan masyarakat.

Selain anak-anak, orang dewasa juga berisiko terkena campak, terutama saat daya tahan tubuh menurun akibat kelelahan atau penyakit tertentu. Penanganan campak umumnya bersifat simptomatik karena disebabkan virus, sementara antibiotik hanya diberikan jika terjadi komplikasi infeksi bakteri.

Masyarakat diimbau tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa indikasi medis dan tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, serta menjaga daya tahan tubuh sebagai langkah pencegahan.

Senada dengan itu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya serius penyakit campak, terutama bagi anak-anak yang menderita gizi buruk.

Ketua IDAI Jabar, Anggraini Alam mengungkapkan, kombinasi antara malnutrisi dan infeksi campak disebut sebagai faktor utama yang memicu tingginya angka kematian pada kasus campak di berbagai daerah.

Ia menekankan bahwa status gizi memegang peranan vital dalam pertahanan tubuh anak saat melawan virus. Anak dengan gizi buruk memiliki sistem imun yang lemah, sehingga ketika terinfeksi campak, dampaknya menjadi sangat fatal dibandingkan anak dengan gizi baik.
“Gizi buruk tentu saja, bilamana dia gizi buruk, daya tahan tubuhnya kurang, terkena campak bukan main (dampaknya). Inilah yang menyebabkan kematian,” ujar Anggraini dalam webinar Media Briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).

Anggraini memaparkan bukti nyata dari beberapa kasus KLB campak yang pernah terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan kejadian di Timika, Papua, pada tahun 2017, serta kasus serupa di Mimika, Baduy, dan Sumenep, di mana angka kematian melonjak akibat kondisi gizi anak yang memprihatinkan.

“Kami itu sudah ke Timika. 70 (anak) meninggal di sana karena gizi buruk dan campaknya. Di tahun berikutnya di Mimika, demikian juga. Baduy, ketemu. Kemarin di Sumenep ternyata banyak yang meninggal, banyak kasusnya,” ungkap Anggraini.

Meski anak dengan gizi baik cenderung mengalami gejala yang lebih ringan jika tertular campak, terutama jika sudah pernah diimunisasi, Anggraini mengingatkan bahwa risiko komplikasi jangka panjang tetap mengintai.

Ia menyoroti risiko Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), sebuah komplikasi radang otak mematikan yang bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal, terutama jika anak terinfeksi campak di usia di bawah dua tahun.
“Orang Inggris, gizi anaknya baiknya bukan main. Ternyata next 15 tahun ke atas terkena SSPE,” jelasnya.

Karena itu, dalam penanganan campak, IDAI juga menyoroti pentingnya pemberian Vitamin A dosis tinggi. Anggraini menjelaskan bahwa virus campak secara agresif menurunkan kadar Vitamin A dalam tubuh anak.

Hal ini seringkali disalahpahami orang tua yang mengira konsumsi sayuran biasa seperti wortel sudah cukup untuk penanganan.

Menurut Anggraini, dosis yang dibutuhkan untuk terapi campak sangat besar, yakni antara 100.000 hingga 200.000 International Unit (IU), jumlah yang tidak bisa didapatkan hanya dari konsumsi wortel.

“Betul sekali virus campak itu memang menurunkan vitamin A. (Tapi) saya jadi ingin tahu berapa wortel itu sama dengan 100 ribu atau 200 ribu IU? Tentu kita tidak minta satu pikap wortel untuk dimakan anaknya,” kata dia.

Oleh karena itu, IDAI mengimbau agar pencegahan melalui imunisasi dan perbaikan gizi tetap menjadi prioritas utama untuk mencegah kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

“Wajib imunisasi. Kalau begitu terus rasanya masyarakat bakal ikut deh, dan bisa menghilangkan mindset bahwa campak itu ringan-ringan saja,” pungkasnya. ***

  • Penulis: Adi Bima

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban Resmi Beroperasi

    Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tuban Resmi Beroperasi

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 13
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Tuban di Kelurahan Mondokan kini telah resmi beroperasi dan memulai aktivitas pembelajarannya. Kehadiran fasilitas pendidikan modern ini menjadi angin segar bagi peningkatan kualitas serta pemerataan akses pendidikan di Jawa Timur. Sekolah ini dirancang secara khusus untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya dari kelompok desil 1 dan […]

  • Persahabatan AS-Israel Mulai Retak, Pengamat Ekonomi: Pemicu Kenaikkan Harga Minyak Global

    Persahabatan AS-Israel Mulai Retak, Pengamat Ekonomi: Pemicu Kenaikkan Harga Minyak Global

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 46
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Persahabatan Amerika Serikat dengan Isrsel tampak mulai retak, hal ini bermula dari serangan udara Tel Aviv yang menargetkan sejumlah puluhan depot bahan bakar di Iran. Serangan tersebut disinyalir sebagai pemicu perselisihan pertama antar dua sekutu tersebut, sejak perang yang dilancarkan pada Iran pada beberapa hari yang lalu, negeri berjulukan Paman Sam merasa dikhianati […]

  • Film Animasi Indonesia Garuda: Dare to Dream Raih Dua Penghargaan di Festival Film Italia

    Film Animasi Indonesia Garuda: Dare to Dream Raih Dua Penghargaan di Festival Film Italia

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 10
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Film animasi Indonesia Garuda: Dare to Dream karya sutradara Ronny Gani meraih dua penghargaan dalam Giffoni Film Festival 2026 pada 17–25 Juli 2026 di Giffoni Valle Piana, Provinsi Salerno, Italia. Film ini menyabet Gryphon Award sebagai Best Film kategori Elements +6. Penghargaan kedua adalah Lete Special Award atau penghargaan khusus yang diberikan kepada […]

  • The Plastic Detox Sebuah Edukasi Tentang Bahaya Mengkonsumsi Plastik Jangka Panjang, dan Pengaruhnya Dalam Tubuh Manusia

    The Plastic Detox Sebuah Edukasi Tentang Bahaya Mengkonsumsi Plastik Jangka Panjang, dan Pengaruhnya Dalam Tubuh Manusia

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 30
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Secara umum penggunaan plastik dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari kehidupan manusia, membungkus makanan, pakaian, campuran alat kecantikan dan sebagainya. Tapi tertnyata penggunaan plastik berlebihan dapat berbahaya bagi tubuh. Pada 16 Maret 2026, dokumenter berjudul The Plastic Detox resmi dirilis di Netflix. Film ini disutradarai oleh Louis Psihoyos dan Josh Murphy, yang mengeksplorasi dampak bahan […]

  • KEMBALI Ke Tren Positif, Manchester United Sukses Tembus Posisi 3 Klasemen Hajar Crystal Palace 2-1

    KEMBALI Ke Tren Positif, Manchester United Sukses Tembus Posisi 3 Klasemen Hajar Crystal Palace 2-1

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Adi Bma
    • visibility 42
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – The Red Devils kembali bergemuruh usai menaklukan Crystal Palace di Stadion Old Traford Minggu (1/3/2026). Kemenangan 2-1 atas Crystal Palace sekaligus memperpanjang tren positif tim di bawah kepemimpinan Michael Carrick. Sejak menggantikan Ruben Amorim sebagai pelatih kepala pada Januari 2026, Carrick telah membawa United meraih enam kemenangan dari tujuh pertandingan liga terakhir. Secara […]

  • Perhatian Serius! Inilah Resiko Kurang Tidur Untuk Tubuh Dalam Jangka Panjang

    Perhatian Serius! Inilah Resiko Kurang Tidur Untuk Tubuh Dalam Jangka Panjang

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 25
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Untuk kalian yang masih atau memiliki jam tidur yang tidak terkontrol ada baiknya mulai memperhatikan dampaknya, pasalnya kurang tidur kerap dianggap sebagai hal sepele yang bisa “dibayar” dengan istirahat di hari berikutnya. Padahal, dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berdampak serius pada kesehatan otak dan jantung, termasuk meningkatkan risiko transient ischemic attack (TIA) […]

expand_less