Menurut WHO Satu Virus Campak Beresiko Menular Ke 18 Orang lain
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Kementerian kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyampaikan perkembangan terbaru terkait situasi campal nasional dan global dalam konferensi pers secara daring kamis februari lalu. Langkah tersebut diambil guna mewaspadai Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di beberapa wilayah Indonesia.
Data nasional mencatat sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 terkonfirmasi laboratorium dan 69 meninggal dunia. sedangkan untuk tahun 2026, hingga memasuki minggu ke-7 tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 terkonfirmasi dan 4 meninggal dunia. Pada periode tersebut telah terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi yang ada di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular sehingga memerlukan kewaspadaan dan respons cepat.
“Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena itu, setiap peningkatan kasus harus direspons dengan cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa penemuan kasus suspek campak pada tahun 2025 meningkat signifikan, yakni 147 persen dibandingkan tahun 2024, sehingga penguatan sistem kewaspadaan dini menjadi prioritas utama.
“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” jelasnya.
Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang turut meningkatkan risiko penularan lintas negara. Indonesia juga menerima notifikasi International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sempat melakukan perjalanan dan tinggal sementara di Indonesia. Seluruh kasus tersebut telah dinyatakan sembuh, dan koordinasi lintas negara terus dilakukan.
Belum lama ini ramai seorang selebgram Ruce Nuenda menjadi sorotan warganet pasca dengan sadar mengunggah Instagram story saat dirinya berolahraga di luar rumah meski sedang sakit campak. Ia juga memperlihatkan foto ruam kemerahan di bagian tangan hingga kaki.
Postingan tersebut mendadak banjir hujatan. Warganet menilai tindakannya berisiko tinggi menularkan penyakit. Dalam Instastorynya, Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf dan mengaku tidak tahu campak merupakan penyakit menular.
“Teman-teman, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya apabila tindakan saya tadi dinilai kurang tepat,” sebut Ruce
“Maaf gaes, nggak tau kalau nular, aku balik,” tambahnya.
Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini menyebar melalui kontak dengan percikan cairan dari hidung atau tenggorokan orang yang terinfeksi, misalnya saat batuk atau bersin, sertamelalui udara yang telah dihirup oleh penderita campak.
Virus campak dapat tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terkontaminasi hingga dua jam. Karena itu, tingkat penularannya sangat tinggi. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan penyakit ini kepada hingga 18 orang lain.
Penularan dapat terjadi sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam keluar.
Perlu dicatat, campak bukan sekadar penyakit ruam biasa. Wabah campak dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada anak-anak kecil yang mengalami kekurangan gizi.
Ibu hamil yang terkena campak memiliki kondisi ini dapat berbahaya bagi ibu dan berisiko menyebabkan bayi lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah.
Komplikasi paling sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun. Risiko lebih tinggi pada anak yang mengalami malnutrisi, terutama yang kekurangan vitamin A atau memiliki sistem kekebalan tubuh lemah akibat HIV atau penyakit lainnya.
Campak sendiri juga melemahkan sistem imun dan dapat membuat tubuh ‘lupa’ cara melindungi diri dari infeksi, sehingga anak menjadi sangat rentan terhadap penyakit lain. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar