Kasus Keracunan MBG Terus Berulang Kini Jadi Sorotan Media Asing
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Media asing menyoroti kasus dugaan keracunan makanan yang kembali terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia.
Associated Press (AP) melaporkan hampir 2.000 orang, yang sebagian besar merupakan pelajar, jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Kasus dugaan keracunan makanan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah antara Selasa (1/9/2026) hingga Kamis (3/9/2026), yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan, sekitar 1.950 siswa, guru, dan santri terdampak setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Tidak ada korban meninggal dunia dalam rangkaian kasus tersebut. Pemerintah masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab keracunan.
AP menyoroti kasus di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sebagai salah satu kasus terbesar.
Sebanyak 752 siswa dan 25 guru SMA Negeri 1 Lasem mengalami diare, mual, muntah, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan yang disediakan melalui program MBG.
Kasus serupa terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 730 orang, sebagian besar merupakan siswa Pondok Pesantren Manbaul Hikam, dilaporkan terdampak dugaan keracunan makanan.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan 706 korban telah diperbolehkan pulang dan menjalani pemulihan di rumah.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdapat 276 kasus dugaan keracunan yang melibatkan siswa dan guru.
Distribusi makanan dari satuan pelayanan pemenuhan gizi setempat kemudian dihentikan sementara sambil menunggu hasil penyelidikan.
Sementara di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, 15 siswa sekolah dasar dan seorang kepala sekolah menjalani perawatan setelah mengalami pusing, mual, dan gejala lainnya.
Sebanyak 152 siswa dari dua sekolah menengah pertama di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, juga dirawat di tiga rumah sakit karena mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.
Menurut AP, kasus terbaru tersebut menambah daftar panjang insiden dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan program MBG sejak diluncurkan pada Januari 2025.
Data pemantauan Kementerian Kesehatan hingga 2 September 2026 menunjukkan, insiden keracunan makanan yang berkaitan dengan MBG telah mencapai 560 kasus.
Sebanyak 50.059 orang terdampak dari kasus-kasus tersebut yang tersebar di 245 kabupaten dan kota di 36 provinsi.
Angka tersebut menjadi perhatian karena pemerintah tengah memperluas program MBG secara nasional.
Program tersebut merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo dan ditujukan untuk menyediakan makanan bergizi bagi hampir 90 juta siswa, balita, dan ibu hamil.
Dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengatakan hasil evaluasi internal menunjukkan sekitar 80 hingga 90 persen kasus keracunan makanan sebelumnya berkaitan dengan kegagalan menerapkan prosedur keamanan pangan.
Masalah tersebut mencakup penyimpanan makanan, penerimaan bahan baku, pengendalian suhu, hingga batas waktu konsumsi.
“Kasus terbaru di Sidoarjo, Agam, Rembang, dan daerah lainnya merupakan pukulan besar bagi kami,” kata Sudaryono.
Badan Gizi Nasional kemudian memperketat pengawasan terhadap penyedia makanan dan melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 27.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi di seluruh Indonesia.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan ratusan fasilitas yang diduga fiktif.
Sedikitnya 833 dapur juga telah ditutup karena dinilai tidak memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.
Program MBG diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar 28 miliar dolar AS hingga 2029.
AP menempatkan rangkaian kasus keracunan tersebut sebagai tantangan terhadap upaya pemerintah memperluas program MBG yang menjadi salah satu janji utama Presiden Prabowo. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar