BMKG Beri Peringatan: Waspada Musim Kemarau Datang Lebih Awal
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.news – Negara-negara di sekitar kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi dilanda gelombang panas yang lebih hangat dari biasanya mulai April mendatang.
Menurut prakiraan musiman terbaru Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC), suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara diperkirakan berada di atas rata-rata untuk periode Maret-April-Mei 2026.
ASMC memproyeksi untuk periode tiga bulan ke depan, ada kemungkinan 80 hingga 100 persen suhu di atas normal di seluruh Indonesia dan Malaysia. Gelombang panas tak biasa ini diperkirakan pertama kali melanda kedua negara itu, lalu meluas ke sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam dua bulan berikutnya.
Tidak hanya Indonesia wilayah Thailand dan Vietnam utara juga diperkirakan akan dilanda panas yang sama.
Menurut ASMC. Hanya sebagian kecil kawasan, termasuk Vietnam tenggara, Kamboja, dan beberapa wilayah Filipina, yang diperkirakan mengalami suhu mendekati normal.
“Untuk periode Maret-April-Mei (MAM) 2026, suhu di atas normal diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Kepulauan Maritim,” kata ASMC dalam laman resminya, Jumat (6/3).
“Sebagian besar model [lebih dari enam model] memprediksi suhu di atas normal sebagai kategori paling mungkin di kawasan ini,” lanjutnya.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa musim kemarau diprediksi akan datang lebih awal di Indonesia.
Percepatan awal musim kemarau ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global telah beralih ke fase Netral dan berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Pantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau dalam kondisi Netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
Meski demikian, peluang munculnya El Niño kategori Lemah hingga Moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini dengan probabilitas sekitar 50-60 persen.
Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun.
Dikutip dari Bloomberg via SCMP, gelombang panas kali ini juga diprediksi meningkatkan permintaan energi untuk bahan bakar dan membebani jaringan listrik. Padahal di saat bersamaan, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memperketat pasokan energi di Kawasan ini.
Serangan AS dan Israel ke Iran mengganggu transportasi dan produksi di Timur Tengah, sehingga mendorong harga energi melonjak.
Gangguan berkepanjangan dapat mengancam pembangkit listrik di Kawasan Asia Tenggara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Gangguan ini diprediksi terjadi hingga April dan Mei, ketika suhu dapat melonjak drastis.
Sejumlah importir gas di kawasan sudah mulai masuk ke pasar spot untuk membeli kargo gas alam cair (LNG) setelah pemasok utama Qatar menghentikan fasilitas ekspor terbesarnya pekan lalu akibat perang.
Vietnam dan Thailand mencari pengiriman LNG untuk Maret dan April, sementara Thailand menyesuaikan rencana pengadaan LNG dengan menambah tiga kargo spot pada bulan tersebut.
Singapura, yang tahun lalu mendapatkan lebih dari 40 persen LNG dari Qatar, diperkirakan akan mengalami lonjakan harga listrik pada kuartal kedua, menurut Otoritas Pasar Energi negara itu.
Harga spot LNG Asia melonjak dua kali lipat pekan lalu dan masih tinggi, sehingga pembeli di Asia Tenggara harus bersaing dengan pembeli lain di Asia dan Eropa untuk mendapatkan pasokan gas yang terbatas. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar