Para Ahli dan Pegiat Bisnis Plastik Sebut Inilah Penyebab Utama Kenaikkan Harga Plastik
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – CEO DST-Pack, Stanislav Krykun, sebuah perusahaan pengemasan yang berbasis di Polandia. Harga plastik cenderung terus merangkak naik bila ketegangan di Timur Tengah tak mereda.
“Pemasok plastik kami di China telah menaikkan harga sekitar 15% baru-baru ini, dan mereka menyebutkan kenaikan biaya bahan baku dan ketidakpastian pasar secara umum sebagai alasannya,” ujarnya.
Karena itu lalu lalang kapal di Selat Hormuz tersendat, maka pabrik pembuat biji plastik dan produk yang berhubungan dengannya mengalami lonjakan harga.
Para ahli memperingatkan harga berbagai produk plastik berpotensi naik akibat perang Iran yang mendorong lonjakan harga minyak dan gas.
Plastik berbahan dasar fosil sangat sensitif terhadap pergerakan energi, sehingga kenaikan biaya bahan baku mulai dirasakan di rantai pasok global.
Seperti dikutip CNN, sejak konflik meningkat pada akhir Februari, harga minyak melonjak lebih dari 40%.
Kondisi ini berpotensi membuat harga produk seperti alat makan sekali pakai, minuman kemasan, hingga kantong sampah naik dalam beberapa minggu ke depan, menurut Patrick Penfield, Profesor Praktik Manajemen Rantai Pasok Syracuse University.
Plastik digunakan luas di berbagai industri, mulai dari kemasan hingga manufaktur, sehingga kenaikan biaya sulit dilacak secara langsung dalam harga akhir produk.
“Konsumen sering kali hanya merasakan harga lebih mahal tanpa mengetahui faktor pemicunya,” kata Joseph Foudy, Profesor Ekonomi di NYU Stern School of Business.
Kenaikan biaya kemasan diperkirakan akan mulai mendorong harga makanan dalam dua hingga empat bulan, seiring perusahaan menghabiskan stok lama.
Di sektor otomotif, dampaknya bisa muncul dalam waktu kurang dari satu tahun karena harga biasanya terikat kontrak jangka panjang.
Lonjakan harga energi dipicu ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Sejak perang dimulai, harga minyak mentah naik dari sekitar US$67 per barel menjadi lebih dari US$98 pada puncaknya 20 Maret, sementara harga gas di Asia dan Eropa melonjak lebih dari 60%. Lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil, termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan.
Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar seperempat ekspor global kedua bahan tersebut, sehingga gangguan logistik di kawasan tersebut berpengaruh besar terhadap harga.
Data Plastics Exchange menunjukkan harga resin plastik telah melonjak dua digit dalam 30 hari terakhir di berbagai sektor manufaktur.
CEO Plastics Exchange Michael Greenberg menyebut kenaikan bulanan polyethylene saat ini sebagai yang terbesar dalam 25 tahun terakhir.
Penggunaan plastik yang sangat luas membuat peralihan ke alternatif seperti kertas atau kaca sulit dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan perubahan proses produksi. Dalam jangka pendek, produsen cenderung menyesuaikan desain kemasan atau menggunakan plastik lebih tipis untuk menekan biaya.
Produk yang sebagian besar berbahan plastik diperkirakan mengalami kenaikan harga paling cepat.
Jika harga minyak tetap tinggi selama beberapa bulan, dampaknya bisa dirasakan konsumen hingga satu atau dua tahun ke depan, bahkan jika konflik berakhir lebih cepat. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar