Inilah Sosok Vano, Pemandu Muda Wisatawan di Hutan Adat Kuta
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Di tengah rimbunnya Leuweung Gede, Hutan Adat Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, seorang remaja tampak berdiri tenang di antara pepohonan.
Tampak mengenakan Ikat kepala berwarna ungu melingkar di kepalanya, sementara tas punggung kecil melekat di bahunya.
Namanya Vano (14). Ia bukan sekadar warga Kampung Adat Kuta, melainkan generasi muda yang sejak kecil diperkenalkan dengan hutan adat dan kini mulai dipercaya mendampingi wisatawan yang berkunjung.
Vano merupakan putra Sekretaris Adat Kampung Adat Kuta, Firman Khabibi.
Ia sudah akrab dengan hutan sejak kecil. “Pertama kali masuk (hutan) umur delapan tahun,” kata Vano saat berbincang dengan wartawan di dalam kawasan Hutan Adat Kuta, Senin (27/7/2026).
Bukan sang ayah yang pertama kali mengajaknya mengenal hutan, melainkan kakeknya. Sejak saat itu, ia mulai terbiasa keluar masuk Leuweung Gede hingga dua kali dalam sepekan. Kini, di usianya yang menginjak 14 tahun, Vano mulai dipercaya membantu mendampingi wisatawan yang ingin mengenal kawasan hutan maupun Kampung Adat Kuta.
“Pendampingin saja,” ujarnya singkat ketika ditanya tugasnya di dalam hutan.
Meski sudah enam tahun mengenal Leuweung Gede, Vano mengaku belum menjelajahi seluruh kawasan hutan adat.
Selama ini, ia lebih sering mendampingi pengunjung di jalur yang biasa dilalui wisatawan.
Ia juga tak pernah merasa takut berjalan tanpa alas kaki di dalam hutan, aturan yang wajib dipatuhi setiap orang yang memasuki Leuweung Gede.
“Enggak pernah,” kata Vano.
Sebagai pelajar yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, Vano mengaku senang menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat adat.
“Senang,” ucapnya sambil tersenyum.
Pendamping Wisata Kampung Adat Kuta, Ade Koko Komara, mengatakan mengenalkan anak-anak kepada hutan adat sejak dini memang menjadi bagian dari proses regenerasi masyarakat adat.
Koko mengaku telah mengenal Leuweung Gede sejak kecil karena sering diajak sang kakek.
“Sejak kecil saya sudah sering diajak kakek ke sini. Jadi kami memang dikenalkan dengan hutan adat sejak kecil sehingga sudah terbiasa datang ke sini,” kata Koko.
Seiring bertambah usia, ia mulai mempelajari sejarah, adat, hingga filosofi hutan melalui Sekolah Lapang yang dibentuk masyarakat adat.
“Baru setelah dewasa saya memahami makna hutan ini. Kebetulan ada Sekolah Lapang, sehingga saya belajar dari para sesepuh mengenai sejarah, adat, dan filosofi hutan. Sampai sekarang saya masih terus belajar,” ujar dia.
Ilmu yang diperoleh kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya, termasuk anak-anak seperti Vano.
“Setelah belajar, saya juga mengajarkan kembali kepada generasi berikutnya,” kata Koko.
Menurut Ade, setiap generasi memang dipersiapkan untuk menjadi penerus yang menjaga hutan adat.
“Betul. Dari generasi ke generasi kami harus tetap menjaga hutan ini,” ujar dia.
Bagi masyarakat Kampung Adat Kuta, hutan bukan sekadar kawasan hijau. Leuweung Gede menjadi benteng alami yang melindungi permukiman warga dari ancaman longsor dan erosi.
“Sebenarnya hutan ini menjadi benteng alami bagi kampung. Kalau hutan ini rusak atau habis, aliran sungai akan terus mengikis tanah hingga ke permukiman warga,” kata Koko.
Karena itulah, masyarakat memberikan nilai sakral pada hutan agar tidak dirusak.
“Terlepas dari kepercayaan yang ada, kami sebagai anak muda memaknainya sebagai cara untuk menjaga alam,” ujar dia.
Koko mengatakan, antusiasme generasi muda untuk mempelajari adat perlahan mulai tumbuh.
“Alhamdulillah, sejak adanya Sekolah Lapang, sedikit demi sedikit anak-anak muda mulai belajar dan antusias. Mereka belajar tentang ritual adat, situs-situs budaya, dan bagaimana menjaga alam,” tutur dia.
Menurut Koko, peran anak-anak muda tidak hanya menjadi pendamping wisata, tetapi juga menjadi pewaris nilai-nilai adat yang selama ini menjaga Leuweung Gede tetap lestari.
“Kami sudah menjaga hutan ini sejak zaman nenek moyang. Masa sekarang justru generasi kami yang merusaknya?” ujar Koko.
Di tangan generasi seperti Vano, masyarakat Kampung Adat Kuta berharap nilai-nilai tersebut terus hidup.
Bukan sekadar untuk mempertahankan tradisi, melainkan agar Leuweung Gede tetap menjadi benteng alam yang menjaga kampung dari generasi ke generasi.***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar