Saham Amerika Kembali Menguat Pasca Gencatan Senjata Perang Iran
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Pasca Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, saham-saham teknologi Amerika Serikat kembali bergairah Sentimen positif ini langsung mendorong reli di pasar saham, terutama pada raksasa teknologi yang sebelumnya tertekan sejak awal tahun.
Perusahaan induk Google, Alphabet Inc, bersama Meta Platforms, Amazon, dan Nvidia memimpin penguatan di tujuh perusahaan teknologi terkemuka.
Dari keterangan yang dikutip dari CNBC global, Rabu (9/4), saham Meta bahkan melonjak lebih tinggi setelah perusahaan tersebut merilis model kecerdasan buatan atau AI terbarunya, Muse Spark. Tidak hanya raksasa teknologi, sektor semikonduktor juga ikut meroket. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company naik sekitar 6%.
Sementara ASML dan Applied Materials masing-masing melonjak sekitar 9%. Penguatan juga terlihat pada Micron Technology yang naik hampir 8%. Kenaikan signifikan turut terjadi pada sejumlah saham chip dan penyimpanan data lainnya. Western Digital melesat hampir 9%, Lam Research naik hampir 10%, dan Intel mencatat lonjakan hingga 11%.
Indeks bursa Wall Street ditutup naik pada perdagangan Rabu (8/4) setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua minggu. Penundaan ini menghentikan sementara konflik yang telah berlangsung sekitar lima minggu.
Tak hanya itu, konflik ini bahkan sempat mengganggu jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global. Usai kebijakan itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 1.325,46 poin atau 2,85% ke level 47.909,92, sekaligus mencatat kenaikan harian terbaik sejak April 2025. S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81 dan Nasdaq Composite melesat 2,80% ke 22.635,00,
Di pasar komoditas, harga minyak jatuh tajam. Kontrak berjangka West Texas Intermediate anjlok lebih dari 16% ke US$ 94,41 per barel, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2020. Sementara itu, minyak acuan global Brent Crude untuk pengiriman Juni turun sekitar 13% ke US$94,75 per barel.
Koreksi harga minyak seiring pasar merespons meredanya ketegangan di Timur Tengah, yang menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
“Kami menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya ini merupakan dasar yang dapat diandalkan untuk bernegosiasi,” tulis Trump akun media sosial Truth Social, dikutip CNBC International, Kamis (9/4).
Meski begitu, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih belum pulih, bahkan infrastruktur energi seperti pipa minyak di Arab Saudi dilaporkan sempat terkena serangan drone.
Penguatan saham teknologi ini menjadi angin segar setelah sektor tersebut mengalami tekanan berat sepanjang awal 2026. Kekhawatiran terhadap konflik Iran sempat memicu aksi jual besar-besaran di pasar, yang menghantam saham teknologi secara signifikan.
Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kekhawatiran investor terhadap dampak AI terhadap model bisnis perusahaan perangkat lunak. Banyak pihak mempertanyakan kapan investasi besar-besaran di bidang AI akan mulai menghasilkan keuntungan nyata.
Salah satu yang paling terdampak adalah Microsoft. Saham perusahaan ini anjlok hingga 23% pada kuartal I 2026. Angka ini lebih dalam dibandingkan penurunan indeks Nasdaq Composite yang turun sekitar 7% pada periode yang sama. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar