Menteri Agama Imbau Takbiran Lebaran 2026 Tidak Ada Sound System di Bali, Ini Alasannya
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar telah melaporkan persiapan Idulfitri ke Presiden Prabowo, perihal takbiran di Bali sudah disepakati selaras dengan Perayaan Nyepi.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat di Bali guna menjaga keharmonisan antarumat beragama. Hal tersebut disampaikan Menag usai bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (4/3).
Dalam keterangannya kepada awak media, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi potensi dinamika yang muncul karena waktu yang berdekatan antara perayaan Nyepi dan malam takbiran.
Menurutnya, koordinasi telah dilakukan dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat di Bali guna menjaga keharmonisan antarumat beragama.
“Saya juga melaporkan persiapan Lebaran akan datang karena beberapa tempat ya tanggal 19 itu kan Hari Nyepi. Hari Nyepi kita tahu tidak boleh ada suara-suara berisik, tidak boleh ada kendaraan dan sebagainya padahal malam itu juga ada teman-teman kita takbir,” ujarnya.
Menag menuturkan bahwa hasil koordinasi telah menunjukkan adanya kesepakatan bersama agar kedua perayaan keagamaan tersebut tetap dapat berjalan dengan saling menghormati.
Pemerintah bersama tokoh masyarakat di Bali telah menyepakati mekanisme pelaksanaan takbiran yang disesuaikan dengan ketentuan Nyepi.
“Alhamdulillah kami melaporkan kepada Bapak Presiden sudah ada persepakatan kami dengan pemerintah setempat dengan tokoh-tokoh masyarakat di Bali bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi, cuma syaratnya ya Nyepi-nya berjalan tapi takbirnya juga berjalan, cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya juga dari jam 6 sampai jam 9,” paparnya..
Selain itu, ia pun menyinggung kemungkinan perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia, dirinya menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim terjadi dalam kehidupan beragama di tanah air dan akan ditentukan melalui sidang isbat.
“Dan Lebarannya pun juga ya perbedaan itu kita terima sebagai suatu hal yang biasa di Indonesia. Nanti kita akan lihat sidang isbat penentuannya kapan pastinya akan Idulfitri nanti akan datang,” kata Nasaruddin.
Menag pun menegaskan bahwa pemerintah akan selalu berusaha menjaga suasana toleransi dan kerukunan antarumat beragama, terutama dalam momentum hari-hari besar keagamaan yang berdekatan waktunya.
Momen yang berdekatan antara Nyepi dan malam takbiran pun menjadi contoh nyata betapa kuatnya nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia, sebuah nilai luhur yang harus terus dijaga dan diperkuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar