Mengenal Alireza Arafi, Pimpinan Tertinggi Interim Iran Penerus Ali Khamenei,
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Gugurnya Ali Khamenei akibat serangan yang dilancarkan AS-Israel pada Sabtu (28/2), pemerintah Republik Islam Iran segera membentuk struktur pemerintahan transisi.
Dewan Penentu Kebijakan Tertinggi resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai salah satu anggota dewan kepemimpinan interim.
Bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Hakim Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, Arafi memegang amanat untuk menjalankan roda pemerintahan hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi yang baru.
Penunjukan ini menempatkan Arafi sebagai sosok sentral dalam menjaga stabilitas ideologi dan politik Iran di tengah krisis.
Alireza Arafi lahir di kota Maybod, Provinsi Yazd pada tahun 1959, Alireza Arafi tumbuh dalam lingkungan religius yang kental.
Ayahnya, Mohammad Ibrahim al-Arafi, dikenal sebagai sahabat karib pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini. Latar belakang keluarga ini memberikan pengaruh kuat pada posisi politiknya yang setia pada garis revolusi.
Arafi memulai karier formalnya di hierarki kekuasaan Iran melalui jalur-jalur strategis:
- Dewan Wali: Menjabat sebagai anggota sejak 2019.
- Majelis Ahli: Menjadi anggota sejak 2022 melalui persetujuan diskresi pemimpin tertinggi.
- Kepala Seminari Iran: Memimpin seluruh jaringan seminari nasional sejak 2016.
- Imam Shalat Jumat Qom: Menjabat sejak 2015 di salah satu kota tersuci bagi penganut Syiah.
Dirinya dikenal sebagai ulama dengan spektrum pengetahuan yang luas. Setelah menuntaskan pendidikan dasar di Qom, ia mendalami kursus seminari tingkat lanjut.
Secara akademis ia memiliki ketertarikan pada bidang matematika dan filsafat, Tak hanya itu Arafi juga ahli dalam ilmu agama dan bahasa Arab, serta ia juga menguasai bahasa Inggris.
Intelektualitasnya ditempa oleh deretan guru besar terkemuka Iran, di antaranya adalah Morteza Motahhari, Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, dan Abdollah Javadi-Amoli.
Kombinasi guru dari faksi filosofis dan yuridis ini dinilai membentuk karakter Arafi sebagai ulama yang mampu menjembatani pemikiran teologis dengan kebijakan praktis kenegaraan.
Salah satu jejak karier Arafi yang paling menonjol adalah kepemimpinannya sebagai Presiden Universitas Internasional Al-Mustafa (2008–2018).
Lembaga ini merupakan pusat pendidikan agama yang bertujuan menyebarkan ideologi Republik Islam dan ajaran Syiah ke tingkat global.
Di bawah kepemimpinannya, Arafi pernah mengeluarkan klaim ambisius bahwa institusi tersebut telah mengonversi 50 juta orang ke ajaran Syiah dalam kurun waktu delapan tahun—sebuah pernyataan yang memicu perdebatan di kalangan pengamat internasional karena skalanya yang dianggap sangat masif
Dalam perjalanan politiknya, Arafi sempat gagal meraih kursi Majelis Pakar pada pemilu 2016 di Teheran. Namun ia masuk melalui pemilihan sela 2021. Pada pemilu Maret 2024, Arafi menjadi peraih suara terbanyak di Teheran dan terpilih sebagai wakil ketua kedua Majelis Pakar, memperkuat posisinya dalam proses suksesi kepemimpinan.
Arafi dikenal memiliki sikap keras terhadap Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah kesempatan, ia sempat menyebut AS sebagai “pusat pelanggaran hak asasi manusia.”
“Amerika akan membawa keinginannya agar Iran menghentikan produksi peralatan militer sampai ke liang kubur,” kata Arafi dalam sebuah pidato tahun lalu.***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar