Kementerian ESDM Sebut Ada Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi dan Memastikan Stok LPG Aman Hingga 10 Hari Ke Depan
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Setelah beberapa waktu lalu pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi, kini dikabarkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa akan ada penyesuaian harga terhadap bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Hanya saja, kata Bahlil, pemerintah masih melakukan perhitungan sebelum menyesuaikan harga.
“Mengenai dengan BBM yang RON 92, 95, 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai,” ujar Bahlil di Istana, Jakarta, Rabu (8/4) malam.
Bahlil menjelaskan, pemerintah saat ini sedang melakukan exercise. Dia menyebut mereka turut berhitung bersama Pertamina dan pihak swasta.
“Sekarang kita masih melakukan exercise. Dan mudah-mudahan doakan agar betul harga ICP bisa turun. Itu akan jauh lebih baik lagi,” terangnya.
“Tapi sampai dengan sekarang kita masih melakukan perhitungan dengan badan usaha, seperti Pertamina dan swasta,” imbuh Bahlil. Diketahui,
Saat ini harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih mengacu pada ketentuan Pertamina Patra Niaga per 1 Maret 2026. Pertamax Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) Rp12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp13.100 per liter.
Sedangkan untuk jenis solar non-subsidi, harga Dexlite naik Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter. Untuk BBM subsidi Pertalite Rp 10.000 per liter dan solar Rp 6.800 per liter.
Bahlil juga memastikan kondisi pasokan LPG nasional sudah kembali stabil setelah sempat mengalami tekanan.
“Menyangkut LPG ini teman-teman media, saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari,” katanya.
Ia menyebutkan, dalam waktu dekat kapal pengangkut LPG tambahan juga akan tiba untuk memperkuat cadangan nasional.
Selain itu, pemerintah tidak lagi melakukan impor solar. Saat ini, impor energi hanya difokuskan pada bensin dengan kebutuhan sekitar 20 hingga 22 juta kiloliter.
Bahlil menegaskan bahwa pasokan LPG Indonesia tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz, yang kerap menjadi titik rawan geopolitik.
“LPG tidak ada urusannya sama Selat Hormuz karena kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika, dan beberapa negara lain,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa impor dari Timur Tengah saat ini hanya berupa minyak mentah (crude) sekitar 20–25 persen, dan sebagian sudah dialihkan ke negara lain seperti Angola, Nigeria, dan Amerika Serikat.
“Jadi kita insyaallah sudah clear lah, insyaallah aman ya,” kata Bahlil.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar