Imbas Trump Putus Rantai Minyak Jutaan Warga Kuba Lumpuh dalam Kegelapan dan Mati Listrik Total
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Belum selesai dunia dihebohkan dengan serangan Amerika Serikat-Israel di Iran yang memasuki pekan ketiga, dalam beberapa waktu ini Presiden AS Donald Trump telah melontarkan keinginannya mengambil alih Kuba. AKibatnya kini Kuba telah mengalami kesulitan ekonomi akibat sanksi dan tekanan AS selama hampir 70 tahun.
”Seumur hidup saya mendengar perseteruan AS-Kuba, kapan AS akan bertindak? Saya yakin mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (16/3).
Menurut Trump, dia bisa membebaskan Kuba atau melakukan apa saja yang dia mau.
Ancaman Trump tanpa basa-basi itu disampaikan saat Kuba mengalami krisis energi dan didera pemadaman listrik berkepanjangan. Krisis energi Kuba memburuk karena berhentinya pasokan minyak Venezuela sesudah AS menyerbu dan menculik Presiden Nicolas Maduro.
”Mati listrik total disebabkan pusat listrik nasional berhenti total,” kata perusahaan listrik Kuba, Union Nacional Electrica de Cuba (UNE), dalam keterangan resmi. Mereka sedang mengupayakan pasokan listrik dipulihkan kembali.
Sistem dan jaringan listrik Kuba yang sudah uzur mengalami berbagai gangguan selain dari masalah pasokan BBM. Rata-rata listrik mati 20 jam tiap hari di berbagai wilayah Kuba yang berpenduduk 9 juta jiwa itu.
Tidak ada impor minyak dari Venezuela yang masuk sejak 9 Januari 2026. Kondisi tersebut turut menyebabkan maskapai penerbangan mengurangi layanan, menghantam sektor pariwisata yang menjadi salah satu sumber devisa Kuba.
Demi mengatasi kesulitan ekonomi dan menyesuaikan diri terhadap tuntutan AS, Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba Oscar Perez-Olivia mengatakan, warga pelarian Kuba kini diizinkan berinvestasi dan berbisnis di Kuba. Banyak warga eksil Kuba yang tinggal di Negara Bagian Florida, AS.
”Kuba terbuka bagi hubungan bisnis dengan korporasi Amerika Serikat dan juga warga Kuba yang tinggal di AS serta keturunannya,” ujar Perez-Olivia kepada NBC.
AS sejak lama menekan Kuba dan membiayai kelompok perlawanan terhadap pemerintah komunis di Kuba. The New York Times, Senin, melaporkan dari sumber anonim, Pemerintah Trump memberi sinyal untuk menyingkirkan Presiden Migued Diaz-Canel dari jabatan.
Pemadaman listrik yang semakin sering terjadi, seiring kekurangan obat, bahan makanan, dan kebutuhan dasar, membuat rakyat Kuba frustrasi. Dalam satu insiden, rakyat yang kecewa menyerbu salah satu kantor Partai Komunis Kuba pekan lalu.
Unjuk rasa warga dengan beraksi pada malam hari dengan beramai-ramai memukul panci dan kuali untuk membuat suara nyaring. Warga beramai-ramai berteriak ”libertad” atau kebebasan.
Media pemerintah, Invasor, mengutip pejabat setempat yang mengatakan, sudah 14 orang ditangkap setelah menyerang sebuah kantor pemerintah di kota Moron. Kota berpenduduk 70.000 jiwa ini terletak di sebelah timur ibu kota Havana.
Kemarahan warga disikapi Presiden Diaz-Canel melalui unggahan di akun X. ”Warga marah karena pemadaman listrik berkepanjangan, termasuk situasi mati listrik total pada awal Maret. Dalam keadaan sulit ini, yang tidak bisa diterima adalah tindakan kekerasan,” cuitnya.
Pemerintah Kuba juga menerapkan pencatuan penjualan minyak dan layanan rumah sakit karena kesulitan BBM.
Diaz-Canel mengungkapkan sudah mengadakan perudingan dengan AS. Trump mengatakan, blokade BBM sengaja diberlakukan terhadap Kuba karena negara kecil di Karibia itu menjadi ancaman bagi AS, negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia.
Menurut Trump, Kuba ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Itu bisa saja terjadi setelah serbuan AS di Iran selesai. ”Saya rasa kita segera mencapai kesepakatan atau apa pun yang harus kita lakukan,” kata Trump di atas pesawat kepresidenan, Air Force One.
Pemerintah Kuba biasanya menolak tekanan asing dan selalu mempertimbangkan berbagai usulan atau mediasi pihak ketiga dalam mencapai kesepakatan. Diaz-Canel mengatakan, perundingan Kuba-AS berlangsung secara setara dan menghormati sistem politik masing-masing.
Diaz-Canel (65) adalah penerus dari Raul Castro, yang menggantikan Presiden Fidel Castro. Ia berkuasa sejak tahun 2018.
Hubungan AS-Kuba terus memburuk. Pada April 1961, Pemerintah AS melalui Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) mengirim pasukan untuk melancarkan kudeta terhadap pemerintahan komunis di bawah Fidel Castro. Peristiwa itu dikenal sebagai insiden Teluk Babi.
Selanjutnya pada 1962, terjadi krisis nuklir karena penempatan senjata nuklir Uni Soviet di Kuba sebagai reaksi atas senjata nuklir AS di pangkalan-pangkalan NATO di Eropa.
Meski puluhan tahun ditekan AS, Kuba mampu menghasilkan dokter dalam jumlah besar dan bekerja di seluruh dunia, termasuk dalam aneka misi kemanusiaan. Sejumlah negara, seperti Meksiko, China, dan Spanyol, mengirim bantuan kemanusiaan bagi rakyat Kuba yang menghadapi kesulitan saat ini. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar