Menteri HAM Natalius Pigai: Semua yang saya ucapkan adalah HAM, Tidak mungkin saya salah
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (MenHAM RI) Natalius Pigai melontarkan pernyataan yang belakangan ini heboh dikalangan masyrakat Indonesia, dalam Rapat Koordinasi Strategi Penguatan HAM dan Desa Sadar HAM 2026, Rabu (24/2).
“Hari ini mari kita rumuskan ini harus menjadi beban bagi kita untuk melakukan perbaikan terus-menerus untuk menghadirkan kesadaran HAM, membunyikan HAM di bangsa Indonesia,” jelasnya.
Ia memaparkan rencana sosialisasi mengenai konsep HAM universal dan HAM partikular.
“HAM partikular itu kayak BKT, Pancasila… HAM universal itu HAM yang umum.” imbuhnya.
Pigai menyikapi tentang pentingnya peningkatan kapasitas aparatur dalam memahami isu HAM.
“Bagaimana kita ingin sosialisasi kampanye HAM kalau kita pengetahuan dan wawasan HAM-nya terbatas.” ujarnya
Dalam kesempatan itu dengan bangga ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap kompetensi yang dimilikinya.
“Kalau saya, kalian tidak usah ragukan. Saya itu sudah menteri, perjalanan saya dari umur lima tahun soal HAM saya sudah paham. Semua yang saya ucapkan adalah HAM. Tidak mungkin saya salah… Karena saya terkontrol.” ungkap menteri lulusan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” (STPMD “APMD”) Yogyakarta pada 1999 itu.
Ia menambahkan pentingnya membaca setiap data yang ada secara cermat.
“Sertifikat statistik saya punya… Peneliti sampai tingkat media… Metodologinya saya mengerti… Saya statistik, baca angkanya kuat. Sehingga saya tidak akan pernah salah… Ini tugas kita. Ini tugas saya, ini tugas kalian.”
Pigai mengajak agar upaya peningkatan kesadaran dilakukan secara bertahap. Apabila belum mampu menjangkau tingkat nasional, menurutnya dapat dimulai dari kantor wilayah, lingkungan keluarga, bahkan dari satu orang tetangga.
Ia juga mengimbau para aparatur untuk mempelajari berbagai instrumen HAM, literatur pendukung, serta dinamika global, sehingga mampu menyusun regulasi dan menyesuaikan diri dengan standar internasional.
Selain aspek pengetahuan, ia menilai kompetensi sosial masih perlu diperkuat.
“Kita tidak bisa membangun kemitraan… Pergaulannya harus luas. Seluas samudera.”
Menutup arahannya, Pigai menyatakan peningkatan kesadaran HAM perlu menjadi tanggung jawab bersama.
“Tugas kita diseminasi, sosialisasi. Jangan hopeless… membangun dan merubah mindset orang itu lebih sulit.” ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar