Hasil Sidang Isbat 1 Ramadhan, Pemerintah Tetapkan Jatuh di 19 Februari
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Pemerintah Indonesia melalui kementerian agama (Kemenag) telah melakukan ruqyatul hilal untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadhan 1447 H pada pukul 16.00 waktu indonesia setempat. Pemantaun tersebut telah dinantikan oleh seluruh umat muslim di Indonesia sebagai penentu waktu untuk memulai puasa ramadhan.
Hasil sidang isbat ini merujuk pada pemantauan yang dimulai dari sore hingga memasuki waktu maghrib, sayangnya hilal yang tampak di langit nyatanya masih tertutup awan tebal bahkan dibeberapa wilayah seperti di Jakarta dan di Lombok hilal tidak bisa terlihat secara jelas dikarenakan kedua daerah tersebut mengalami hujan di sore itu.
Posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang dipergunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Adapun posisi hilal yang tampak hari ini berada di angka -1° sehingga belum terlihat dari ufuk, adapu kriteria MABIMS yang diberikan untuk menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil sidang isbat ditetapkan bahwa 1 ramadhan 1447 H jatuh pada kamis, 19 Februari 2026, pemerintah kemudian mengingatkan untuk tetap menjaga kerukunan walau ada perbedaan dalam penetapan waktu puasa ramadhan.
“Kalau kita melihat sejarah bangsa Indonesia, Sidang Isbat selalu menjadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kami berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari-hari penting keagamaan,” ujar Nasaruddin.
Di sisi lain PP Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, besok.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi dengan cerdas dan tasamuh dalam melihat perbedaan awal puasa, 1 Ramadan 1447 Hijriah atau 2026.
“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar pada Selasa (17/2). ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar