Aksi Protes Akibat Sering Listrik Mati, Peternak Palangkaraya Lempar Bangkai Ayam Tuntut Profesionalisme PLN
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Peternak ayam lokal yang tergabung dalam aksi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) kembali melakasanakan aksi demonstrasi di PLN UP3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).

Demonstrasi itu diiringi dengan aksi membuang bangkai ayam di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya.
Tumpukan bangkai ayam pun memenuhi trotoar di depan kantor tersebut.
Aksi tersebut adalah bentuk kekesalan warga terhadap pemadaman listrik bergilir yang kerap terjadi di wilayah Kota Palangka Raya. Massa aksi mempertanyakan pemadaman tersebut, serta menuntut pelayanan listrik yang andal, transparan, dan berkeadilan.
Tumpukan bangkai ayam itu milik peternak yang mengalami kerugian karena pemadaman listrik.
Salah satu peternak ayam yang menyampaikan unjuk rasa, Satrio (35), menyampaikan bahwa pihaknya merugi karena ayam ternak yang mati saat pemadaman menuntut.
Ia, mewakili peternak, menuntut Manajemen PLN memberikan penjelasan. “Apa tanggung jawabnya, ini kerugian,” ujarnya.
Aksi yang dilakukannya itu merupakan lanjutan setelah kemarin masyarakat juga berdemonstrasi, Selasa (28/7/2026).
Massa menuntut menemui pimpinan PLN. Namun, yang menghadapi massa aksi saat ini adalah aparat kepolisian dan serikat pekerja PLN. Satrio menjelaskan, mayoritas peternak ayam broiler di Palangka Raya saat ini telah menerapkan sistem kandang modern atau close house.
Sistem kandang tertutup ini sangat bergantung pada kipas elektronik (blower) untuk menjaga sirkulasi udara dan menyuplai oksigen bagi ayam. Oleh karena itu, kestabilan arus listrik dari PLN menjadi faktor krusial yang menentukan hidup mati hewan ternak mereka.
“Listrik itu sebetulnya merupakan nyawa buat ayam. Jadi ketika listrik ini padam, ya kami memang tetap memiliki genset. Hanya saja PLN ini kan tidak konsisten, tidak memberikan jadwal yang tegas kapan itu dimatikan. Ditambah lagi durasi pemadaman itu yang begitu lama,” keluhnya.
Meskipun peternak memiliki gense imbuhnya, alat tersebut sejatinya hanya dirancang sebagai daya cadangan (backup), bukan pengganti pasokan listrik utama
Durasi pemadaman yang terlalu lama memaksa genset bekerja melebihi kapasitasnya hingga mengalami kerusakan teknis.
“Ketika genset rusak, suplai udara di dalam kandang langsung terhenti, yang mengakibatkan ribuan ayam mati mendadak karena kekurangan oksigen,” ujarnya.
Beban peternak, kata Satrio, kian berlipat karena pihaknya juga kesulitan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset.
Pembelian BBM di SPBU dibatasi dan tidak diizinkan membawa tangki penyimpanan secara bebas, yang membuat biaya operasional membengkak drastis.
Akibat polemik pemadaman listrik bergilir yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan ini, para peternak mengaku mengalami kerugian materiil dalam jumlah yang sangat besar.
“Kalau selama ini mungkin sudah (rugi) ratusan juta. Karena apa? Kami rugi ini bukan cuma rugi tok, rugi sampai minus bahasanya. Karena kami punya modal, punya operasional untuk pemanas, tenaga kerja, dan lain-lain itu enggak akan balik. Kalau ayam sudah mati, sudah enggak bisa kita jual. Siapa yang mau beli ayam mati?” ujar Satrio.
Satrio juga mempertanyakan profesionalitas dan fungsi PLN sebagai penyedia layanan listrik negara.
Menurutnya, kegagalan PLN dalam menjaga pasokan listrik secara konsisten telah menciptakan efek domino yang merugikan banyak pihak.
“Jika biaya produksi di tingkat peternak melonjak akibat penggunaan genset dan BBM, maka Harga Pokok Penjualan (HPP) daging ayam terpaksa dinaikkan,” ujarnya.
Diketahui, PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) menerapkan pemadaman bergilir selama kurang lebih sepekan terakhir.
Kondisi nyatanya berdampak negatif pada usaha masyarakat yang bergantung pada pasokan listrik.
Sampai saat ini, massa aksi masih berdemonstrasi. Mereka menuntut agar pimpinan manajemen PLN datang menemui mereka. Sampai berita ini ditulis, aksi masih terus berlangsung.
Sebelumnya, General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, mengatakan penurunan kemampuan pasok daya pada Sistem Interkoneksi Kalimantan disebabkan gangguan generator PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada dua unit pembangkit Independent Power Producer (IPP).
“Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan listrik di sebagian wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,” kata Iwan dalam rilisnya, Senin (27/7/2026).

Untuk menjaga keamanan dan kestabilan sistem kelistrikan, PLN menerapkan pengaturan beban secara terbatas dan terukur di sejumlah wilayah selama proses pemulihan berlangsung.
Menurut Iwan, PLN terus mempercepat proses pemulihan dengan mengerahkan personel serta sumber daya agar unit pembangkit yang mengalami gangguan dapat segera kembali beroperasi secara normal.
Selama masa pemulihan tersebut, PLN juga mengajak masyarakat menggunakan listrik secara bijak, khususnya pada jam beban puncak pukul 18.00 hingga 21.00 Wita.
Pelanggan diimbau mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan, mengatur suhu pendingin ruangan di atas 24 derajat Celsius, serta menggunakan peralatan listrik hemat energi. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar