Nilai Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.123 per Dolar AS, Setelah Adanya Negosiasi Iran-AS
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Nilai tukar rupiah mulai membaik terhadap dolar AS. Rupiah pada Rabu (15/4/2026) pagi, menguat 4 poin atau 0,02 persen terhadap mata uang AS tersebut.
Kurs rupiah naik menjadi Rp17.123 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS.
Sebelumnya, selama sekitar sepekan terakhir nilai tukar rupiah terus menerus tertekan. Kemarin, rupiah melemah 25 poin atau 0,15 persen terhadap mata uang AS.
Transaksi rupiah pada Selasa pagi dibuka dengan kurs Rp17.130 per dolar AS.
Kurs rupiah turun dibandingkan kurs pada penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.
Rupiah melemah lagi sebesar 22 poin atau 0,13 persen pada penutupan perdagangan Selasa sore.
Rupiah turun ke posisi Rp17.127 per dolar AS, sedang di penutupan sebelumnya rupiah berada di level Rp17.105 per dolar AS.
Rully Nova analis Bank Woori Saudara menilai penguatan rupiah didorong oleh harapan pasar terhadap peluang negosiasi lanjutan antara Iran dan United States.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp17.070–Rp17.120 dipengaruhi oleh harapan ruang negosiasi kedua antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak turun dan indeks dolar melemah,” ujarnya.
Optimisme tersebut turut dipengaruhi laporan yang menyebutkan JD Vance Wakil Presiden AS berpotensi kembali memimpin delegasi dalam putaran kedua perundingan dengan Iran.
Donald Trump Presiden AS juga menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran dapat berlangsung dalam waktu dekat di Pakistan.
Sebelumnya, perundingan awal telah digelar di Islamabad pada akhir pekan lalu untuk membahas upaya penghentian konflik antara AS, Israel, dan Iran. Namun, hingga kini belum tercapai kesepakatan final, dan proses diplomasi masih terus berlanjut.
“Negosiasi kedua belum tentu menjamin titik kesepakatan, namun harapan harga minyak turun masih akan tetap terjaga,” kata Rully.
Dari sisi domestik, sentimen positif juga datang dari pasar obligasi pemerintah. Permintaan dalam lelang obligasi terbaru tercatat meningkat signifikan, yang berpotensi menekan imbal hasil (yield) dan mendukung pembiayaan utang negara.
“Permintaan obligasi pemerintah pada lelang kemarin naik 34 persen, terutama dari tenor menengah yang mencapai Rp42 triliun dan mendorong yield turun 20 hingga 30 basis poin. Namun, beban pembayaran bunga utang masih tinggi terhadap APBN,” jelasnya.***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar