PSG vs Chelsea: Kalah 0-3, Blunder dan Buruknya Penyelesaian Akhir The Blues Jadi Sorotan
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Perjalanan Chelsea di Liga Champions berakhir dengan mengecewakan setelah kalah 3-0 dari Paris Saint-Germain pada leg kedua babak 16 besar, sehingga menelan kekalahan agregat 8-2 dalam 180 menit pertandingan. Mirisnya kekalahan ini saat bertanding hadapan pendukungnya sendiri di Stamford Bridge (18/3) dini hari WIB.
Kekalahan agregat ini merupakan yang terberat dalam sejarah The Blues di babak gugur Liga Champions, menyamai kekalahan telak 7-1 yang mereka derita dari Bayern Munich pada tahun 2020.
Sejak babak pertama dibunyikan tempo serangan langsung meningkat, hal ini terbukti belum ada sepuluh menit tepatnya menit ke-6, PSG langsung membuka keunggulan melalui Khvicha Kvaratskhelia. Gol ini bermula dari kesalahan lini belakang Chelsea yang gagal mengantisipasi pergerakan cepat lawan.
Bek kanan dadakan Mamadou Sarr gagal mengontrol umpan panjang dari kiper Matvey Safonov yang melewati barisan pertahanan Chelsea, sehingga Khvicha Kvaratskhelia berhasil menyelinap masuk dan melepaskan tembakan yang tak mampu dihentikan Robert Sanchez.
Kurang dari 10 menit kemudian, PSG mencetak gol lagi. Moises Caicedo kehilangan penguasaan bola di lini tengah dan tim tamu melakukan serangan balik dengan cepat, dengan Achraf Hakimi akhirnya mengoper bola ke belakang untuk disambar Bradley Barcola ke sudut atas gawang.
Serangan cepat yang dibangun dari sisi sayap berhasil menembus pertahanan Chelsea yang terlihat tidak siap.
Dikutip dari ESPN, dua gol dalam 15 menit pertama membuat Chelsea kehilangan arah permainan. PSG mampu memanfaatkan ruang yang terbuka akibat permainan menyerang yang dipaksakan oleh tuan rumah.
Chelsea yang membutuhkan banyak gol justru semakin terbuka di lini belakang, memberi keuntungan bagi PSG untuk mengontrol ritme permainan.
Kvaratskhelia kembali mencetak gol pada menit ke-30, namun golnya dianulir karena bendera offside terlambat, sebelum Barcola berlari melewati garis pertahanan tinggi Chelsea namun tendangannya melebar.
Menjelang akhir babak pertama, Safonov melakukan dua penyelamatan gemilang di ujung lain lapangan untuk menggagalkan upaya Joao Pedro dan Cole Palmer, sementara Sanchez menggagalkan Barcola setelah serangan balik cepat dari tendangan sudut berikutnya.
Chelsea harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain setelah Trevoh Chalobah dilarikan keluar lapangan karena cedera setelah tuan rumah telah menggunakan kelima pemain pengganti mereka, tetapi PSG menurunkan intensitas permainan dan tidak ada tambahan waktu yang diberikan karena tuan rumah segera terbebas dari penderitaan mereka.
Statistik lapangan menunjukkan hal yang mencengangkan, Chelsea sebenarnya tidak sepenuhnya tertekan. Mereka mampu menguasai bola dalam beberapa fase pertandingan dan menciptakan sejumlah peluang.
Namun, dilansir dari data FotMob, efektivitas menjadi pembeda utama. PSG tampil jauh lebih klinis dalam menyelesaikan peluang, sementara Chelsea kesulitan menciptakan peluang bersih.
Beberapa upaya dari lini depan Chelsea masih belum mampu menembus pertahanan PSG yang bermain rapi dan terorganisir. Hal tersebut menjadi pekerjaan serius bagi tim asuhan Liam Rosenior ini untuk memperbaiki lini serang mereka.
Alur serangan Chelsea tidak berjalan dengan mulus. Manajer Liam Rosenior pun mengungkapkan, timnya kalah karena kesalahan-kesalahan sendiri.
“Kami seharusnya memulai dengan baik, tapi yang terjadi sebaliknya. Kami membuat kesalahan, yang mana di level pertandingan seperti ini, satu kesalahan kecil bisa dihukum berat,” ungkapnya kepada situs resmi UEFA.
“Ini benar-benar pelajaran pahit bagi kami,” tegasnya.
Padahal, Chelsea datang dengan status juara Piala Dunia Antarklub dan sejarah panjang di kompetisi Eropa. Namun, performa saat ini menunjukkan bahwa mereka masih jauh dari level tertinggi sepak bola benua biru.
Kekalahan ini menjadi alarm bagi manajemen untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh jika ingin kembali bersaing di panggung elite Eropa. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar