LAGI! Israel Serang Pasukan UNIFIL di Lebanon, 11 Prajurit Perdamaian Dalam Perawatan Intensif
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Belum kering luka dan air mata bangsa Indonesia atas gugurnya 3 Pasukan Perdamaian TNI yang gugur di Lebanon. Menteri Luar Negeri Sugiono kembali menerima laporan terkini mengenai adanya sebelas prajurit TNI yang bertugas sebagai tentara penjaga perdamaian kini tengah mendapatkan perawatan serius dalam insiden terbaru di wilayah konflik Lebanon.
“Tadi malam juga saya menerima laporan bahwa ada tiga prajurit TNI yang terluka, yang juga penyebabnya seperti halnya dari dua insiden yang sebelumnya terjadi,” kata Menlu Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4).
Tambahan korban luka ini menambah daftar personel TNI yang terdampak akibat memanasnya situasi keamanan di Lebanon, setelah sebelumnya tiga prajurit telah gugur saat bertugas di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Sugiono, saat ini pihak berwenang dari PBB sedang menelusuri secara mendalam terkait kejadian tersebut.
“Itu masih diinvestigasi oleh UNIFIL,” kata Sugiono mengenai status pemeriksaan terhadap insiden yang baru saja dilaporkan tersebut.
Kemlu lalu menekankan, keselamatan dan keamanan peacekeepers PBB tidak dapat ditawar. Setiap tindakan yang membahayakan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Indonesia menyatakan, ledakan ini adalah insiden serius ketiga yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian Indonesia di UNIFIL dalam kurun waktu satu minggu terakhir.
Sebelumnya, sebanyak tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon gugur akibat eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan, termasuk pernyataan untuk mempertahankan keberadaan Israel, beresiko mendestabilisasi situasi dan terus membahayakan personel pasukan perdamaian PBB.
“Serangan atau insiden yang terjadi berulang kali seperti ini tidak dapat diterima. Terlepas dari apapun penyebabnya, kejadian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan segera perlindungan bagi pasukan perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya,” tegas Kemlu.
Selain menelan tiga korban jiwa, insiden yang terjadi dalam dua kejadian terpisah pada 29 dan 30 Maret 2026 akibat serangan senjata atau ledakan di wilayah operasi tersebut juga menyebabkan lima prajurit lainnya luka-luka.
Dengan laporan terbaru dari Menlu Sugiono, prajurit TNI yang terdampak serangan dalam konflik Timur Tengah telah menelan tiga korban jiwa dan delapan lainnya luka ringan hingga luka berat.
Tiga prajurit TNI yang gugur tersebut yakni Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon.
Panglima meminta penjaga perdamaian untuk tetap berada di dalam bunker dan menghentikan seluruh aktivitas di luar markas.
“Jaga moral prajurit yang ada di sana, tetap melaksanakan pengamanan intern, masuk ke bunker-bunker dan tidak ada kegiatan yang lagi ke luar,” ujar Agus dikutip dari akun Instagram pribadinya, Sabtu (4/4)
Adapun korban tiga prajurit tambahan pertama kali dinyatakan langsung oleh Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel yang disampaikan kembali oleh Pusat Informasi PBB di Indonesia (UNIC).
Juru Bicara UNIFIL menyatakan, insiden tersebut terjadi setelah ledakan tidak terhindarkan di dalam fasilitas PBB di El-Adeisse. Dua di antaranya mengalami luka serius.
Karena hal itu, mereka akhirnya dievakuasi ke rumah sakit. Di sisi lain, UNIFIL masih mencari tahu asal-usul ledakan.
“Ini merupakan pekan yang sulit bagi para penjaga perdamaian yang bertugas di sekitar bagian tengah wilayah operasi UNIFIL,” jelas Kandice Ardiel dalam keterangannya.
“Kami menyampaikan harapan terbaik kami agar seluruh korban luka dapat pulih sepenuhnya dan secepatnya,” tutur Kandice.
Insiden ini sekaligus menambah panjang daftar prajurit yang terluka akibat serangan beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mendesak evaluasi menyeluruh sistem keamanan pasukan TNI di Lebanon, menyusul kembali terjadinya serangan yang melukai tiga prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia.
Dia meminta Mabes TNI segera meninjau ulang prosedur operasional serta perlindungan personel di lapangan, dan merelokasi posisi pos ke zona lebih aman agar kejadian serupa tidak terulang.
“Evaluasi harus mencakup peninjauan posisi pos agar berada di zona yang lebih aman, peningkatan perlindungan fisik di pangkalan, serta pengetatan SOP saat terjadi eskalasi di sekitar area tugas,” ujar TB Hasanuddin, Sabtu (4/4)
Menurut dia, langkah-langkah tersebut penting dipertimbangkan, mengingat situasi keamanan di Lebanon selatan terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Lebih jauh, TB Hasanuddin mengingatkan bahwa pemerintah juga perlu mempertimbangkan ulang keberlanjutan keterlibatan Indonesia dalam misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), apabila kondisi keamanan semakin tidak kondusif.
“Kalau kehadiran kita di sana tidak lagi memberikan manfaat signifikan dan justru membahayakan prajurit TNI, sementara pihak-pihak di lapangan tidak kooperatif dan PBB terlihat lemah, maka opsi untuk menarik pasukan harus mulai dipikirkan secara serius,” tegasnya.
Politikus PDI-P itu menegaskan, komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia tetap harus dijalankan, dengan catatan keselamatan prajurit menjadi prioritas utama.
“Keselamatan prajurit adalah prioritas utama. Komitmen internasional harus tetap dijalankan, tetapi dengan perhitungan matang dan perlindungan maksimal bagi setiap personel kita,” ujar dia.
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar