Iran Kirim Belasan Juta Barel Minyak Ke China Lewat Selat Hormuz
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Iran terpantau masih terus mengirimkan minyak mentah skala besar ke China melalui Selat Hormuz sejak meletusnya perang teluk itu pada akhir februari 2026 lalu.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur perairan sempit yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia dikirim melalui selat ini. Hal ini terjadi di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Hal tesebut memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah serta berpotensi mengganggu pasokan energi global melalui jalur pelayaran strategis tersebut.
Padahal, banyak kapal dilaporkan “menghilang” dari sistem pelacakan setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintasi jalur air tersebut.
Dilansir dari CNBC, Rabu(11/3), Iran setidaknya sudah mengirimkan 11,7 juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, dan dalam laporan tersebut semuanya dikirimkan menuju China.
Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh salah satu pendiri TankerTrackers.com, Samir Madani, pada Selasa (10/3).
Perusahaan tersebut memantau pergerakan kapal tanker menggunakan citra satelit, sehingga tetap dapat mendeteksi kapal-kapal yang mungkin tidak terlacak apabila sistem pelacakan otomatisnya dimatikan. Penyedia data intelijen perkapalan Kpler memperkirakan sekitar 12 juta barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz sejak perang Iran dimulai.
“Mengingat China telah menjadi pembeli utama minyak mentah Iran dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar barel tersebut kemungkinan besar akan menuju ke sana,” ujar analis minyak mentah Kpler, Nhway Khin Soe.
Sejak konflik pecah bulan lalu, lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan menurun drastis, karena banyak kapal tanker memilih menghindari jalur yang dianggap berisiko tinggi.
Namun hingga kini, Badan Administrasi Energi Nasional China belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut.
Bahkan, sepuluh kapal di sekitar Selat Hormuz dilaporkan diserang oleh Iran kurang dari dua minggu setelah perang dimulai. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya tujuh pelaut, menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Dikutip dalam wawancaranya dengan CNBC, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga mengingatkan bahwa kapal tanker yang melintasi selat tersebut harus sangat berhati-hati.
Sementara itu, Samir mengatakan bahwa dari enam kapal tanker yang terekam melalui citra satelit meninggalkan Iran sejak 28 Februari 2026, tiga di antaranya berbendera Iran. Di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, harga minyak sempat melonjak tajam.
Meski Iran tetap mengekspor minyak ke China, volumenya kini lebih rendah dibandingkan sebelum konflik pecah. Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak Iran saat ini berada di kisaran 1,22 juta barel per hari, jauh di bawah level Februari yang mencapai 2,16 juta barel per hari, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2018.
Menurut Soe, seluruh ekspor tersebut hampir sepenuhnya ditujukan ke China, seiring langkah Beijing memperkuat cadangan energinya untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan. Data bea cukai China menunjukkan bahwa impor minyak mentah negara itu naik 15,8 persen dalam dua bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kpler juga mencatat bahwa pengiriman minyak mentah Iran sempat mencapai rekor 3,78 juta barel per hari pada pekan 16 Februari, lebih dari dua kali lipat rata-rata mingguan sebelumnya yang sekitar 1,48 juta barel per hari.
Hingga Januari 2026, negara tersebut diperkirakan memiliki sekitar 1,2 miliar barel cadangan minyak, cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik selama tiga hingga empat bulan, menurut laporan Atlantic Council.
Sementara itu, konflik di Timur Tengah hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz pun tetap tinggi dan membuat pasar energi global berada dalam kondisi tidak stabil.
Harga minyak bahkan sempat melonjak hingga mendekati 120 dollar AS per barel pada Senin (9/3/2026), yang merupakan level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan setelah beberapa negara penghasil minyak di Teluk Persia mulai membatasi produksi dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir terhenti.
Para pemimpin dunia pun tengah berupaya meredam potensi gejolak harga energi.
Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dilaporkan mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar, sementara Trump memberi sinyal bahwa perang kemungkinan akan segera berakhir. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar