Kurs Rupiah Menguat, Sinyal Positif Setelah Tekanan Lima Hari Kerja
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.380/US$ atau terapresiasi 0,17%. Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung selama lima hari perdagangan beruntun.
Sejak awal perdagangan, rupiah sudah bergerak di zona hijau.
Mata uang Garuda dibuka menguat 0,34% ke level Rp17.350/US$.Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turut menjadi sentimen positif bagi rupiah. Per pukul 15.00 WIB, DXY terpantau melemah 0,34% ke level 98,111.
Bank Indonesia (BI) yang menilai nilai tukar rupiah saat ini sudah berada dalam kondisi undervalued, atau lebih lemah dari nilai yang seharusnya jika mengacu pada fundamental ekonomi domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kondisi fundamental Indonesia sebenarnya masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%, inflasi yang tetap rendah, cadangan devisa yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang masih tinggi.
Menurut Perry, kombinasi faktor tersebut seharusnya menjadi dasar bahwa rupiah dapat bergerak lebih stabil dan berpeluang menguat ke depan.
Namun, ia mengakui rupiah masih menghadapi tekanan jangka pendek hingga sempat menembus level Rp17.400/US$.
“Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman,” kata Perry.
Dari sisi global, tekanan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak yang masih tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang meningkat, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury yield yang berada di level tinggi sekitar 4,47%.
Selain itu, dolar AS juga masih cenderung kuat sehingga memicu keluarnya modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Dan Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia,” kata Perry.
Sebelumnya Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, mengeklaim pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN sepanjang tahun di bawah batas 3 persen sesuai desain fiskal.
Ia juga mengingatkan agar angka tersebut tidak disederhanakan dengan cara mengalikannya empat kali untuk memproyeksikan setahun penuh.
“Surplus dan defist, mencapai Rp 240,1, itu defisti, itu 0,93 persen dari PDB. Tapi nanti jangan dikali empat, karena setiap tahun akan beda belanjanya dan siklus income-nya beda, siklus belanjanya beda,” ujar Purbaya.
“Yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3 persen sesuai dengan desain APBN,” sambungnya.
Dari sisi kinerja, hingga Maret 2026, APBN disebut cukup ekspansif.
Pendapatan negara tumbuh sekitar 10 persen sebesar Rp 574,9 triliun secara tahunan, dengan penerimaan perpajakan meningkat 14 persen sebesar Rp 462 triliun, dan penerimaan pajak saja mencapai Rp 394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar