Imbas Konflik Timur Tengah, Filipina Deklarasikan Darurat Energi
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Pemerintah Filipina pada Selasa (24/3) menjadi negara pertama yang secara resmi mengumumkan keadaan darurat nasional akibat gangguan rantai pasok energi global menyusul konflik di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut menyebabkan kenaikan harga dan kekurangan pasokan. Padahal, Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar dan sangat rentan terhadap gangguan produksi dan pengiriman.
Negara Asia Tenggara ini memperoleh hampir 26% pasokan energinya dari Timur Tengah, dengan tagihan pada tahun 2024 mencapai USD16 miliar.
Menurut laporan GMA News, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif yang secara formal memberlakukan keadaan darurat dan mengaktifkan respons nasional untuk memulihkan kestabilan pasokan energi dan mencegah dampak ekonomi dari kenaikan harga bahan bakar.
“Keadaan darurat energi nasional dengan ini dideklarasikan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan bahaya yang mengancam ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara,” kata Marcos dalam perintah eksekutif yang dibagikan kepada media pada hari Selasa itu.
Marcos mengatakan langkah ini akan memungkinkan pemerintah untuk mengambil “langkah-langkah terkoordinasi” untuk mengatasi gangguan dalam perekonomian negara.
Ia menambahkan bahwa sebuah komite telah dibentuk untuk memastikan pergerakan, pasokan, distribusi, dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya berjalan tertib.
Status darurat ini akan berlaku selama satu tahun. Dalam periode tersebut, pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pengadaan bahan bakar dan produk minyak bumi guna menjamin pasokan tetap mencukupi dan tepat waktu.
Bahkan, pemerintah juga dapat melakukan pembayaran sebagian kontrak di muka jika diperlukan.
Pada hari Selasa, lonjakan harga lainnya membuat harga bensin dan solar naik lebih dari dua kali lipat dari level sebelum perang pada bulan Februari.
Sebelumnya, juga pada hari Selasa, Menteri Energi Sharon Garin mengatakan negara tersebut memiliki persediaan bahan bakar sekitar 45 hari.
Garin mengatakan kepada wartawan bahwa Filipina akan “untuk sementara” lebih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya sebagai respons terhadap melonjaknya biaya gas alam cair (LNG).
Sebagai bagian dari langkah-langkah penanganan darurat energi, pemerintah Filipina memperkenalkan kerangka dukungan komprehensif yang dikenal sebagai Paket Terpadu untuk Mata Pencaharian, Industri, Pangan, dan Transportasi atau UPLIFT.
Inisiatif tersebut bertujuan untuk membantu sektor-sektor kunci, termasuk transportasi, pertanian, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada hari Selasa, lonjakan harga lainnya membuat harga bensin dan solar naik lebih dari dua kali lipat dari level sebelum perang pada bulan Februari.
Sebelumnya, juga pada hari Selasa, Menteri Energi Sharon Garin mengatakan negara tersebut memiliki persediaan bahan bakar sekitar 45 hari.
Garin mengatakan kepada wartawan bahwa Filipina akan “untuk sementara” lebih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya sebagai respons terhadap melonjaknya biaya gas alam cair (LNG).
Eskalasi regional di Timur Tengah terus berlanjut sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal berulang kali yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Teheran juga telah menguasai Selat Hormuz, jalur transportasi minyak global yang penting yang dilalui sebagian besar pasokan energi untuk mencapai sebagian besar negara Asia.
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar