Waspada Wabah Campak, Kemenkes: Ada Peningkatan Kasus Sepanjang Tahun 2025 hingga Awal 2026.
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Penyakit campak akhir-akhir ini telah menjadi perhatian serius di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya peningkatan kasus serta Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di berbagai provinsi dan kabupaten/kota sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Sepanjang tahun 2025, Kementerian Kesehatan telah mencatat terdapat 63.769 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan 69 kasus kematian.
Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kasus kematian. Selain itu, dilaporkan juga terjadi 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius. Bahkan, campak bisa mengancam nyawa apabila tidak ditangani dengan baik.Agar terhindar dari campak, penting untuk mengenali tentang campak mulai dari gejala hingga penangannya.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono, menyarankan, anak yang sedang terkena campak sebaiknya diisolasi dan tidak kumpul keluarga selama Lebaran 2026.
“Kalau mereka nanti campak harus dilakukan isolasi, jangan ikut kumpul-kumpul bersama keluarga di kampung. Kalau perlu pakai masker, sehingga tidak menulari anggota keluarga yang lainnya,” kata Wamenkes Dante, di Jakarta.
Wamenkes menjelaskan gejala campak mudah dideteksi secara dini karena kasat mata, seperti muncul bintik-bintik di belakang leher.
“Kalau ada demam atau bintik-bintik, terutama bintik-bintik di belakang dan berkeringat di leher belakang atau ada merah-merah, nah itu pertanda campak,” jelasnya.
Penyakit campak saat Lebaran 2026 harus jadi perhatian mengingat tingkat kasusnya masih tinggi di beberapa daerah. Terlebih di momen Lebaran, pergerakan masyarakat semakin masif.
Mengenal Campak dan Penyebabnya
Campak merupakan penyakit infeksi yang bersifat menular yang disebabkan oleh virus campak. Penyebaran virus umumnya terjadi melalui percikan droplet di udara ketika penderita batuk atau bersin.
Virus campak juga dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa waktu sehingga berisiko pada orang-orang di sekitar penderita.Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang selama 10-12 hari (masa inkubasi), baru kemudian mulai menimbulkan gejala.
Jika ada satu anak yang terkena campak di lingkungan yang belum terlindungi vaksin, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat ke anak-anak lainnya.
Gejala Awal CampakPada tahap awal, gejala campak seringkali sama dengan flu biasa sehingga banyak orang tua tidak langsung menyadarinya. Adapun gejala awal yang sering muncul, yaitu demam tinggi disertai dengan 3C, yakni Cough (batuk), Coryza (pilek) dan Conjunctivitis (mata merah dan berair).
Salah satu ciri khas campak adalah bercak koplik (bercak putih kecil pada lapisan dalam mulut), yang muncul 1-2 sebelum timbulnya ruam di kulit. Ruam di kulit muncul pada saat demam tinggi dimulai dari bagian kepala (wajah dan belakang telinga) kemudian menyebar ke leher, badan, hingga tangan dan kaki. Ruam awalnya berwarna merah pucat dan akhirnya berubah menjadi merah gelap dan memudar.
“Campak sering dianggap sebagai penyakit biasa, padahal dalam beberapa kondisi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berisiko menyebabkan kematian, terutama pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain infeksi telinga, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, radang paru-paru atau pneumonia, hingga peradangan otak atau ensefalitis,” ujar dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Venty, Sp.A, CIMI dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).
Cara Penanganan Campak
Hingga saat ini, belum ada obat antivirus khusus untuk mengatasi virus campak. Oleh karena itu, penanganan campak umumnya bersifat suportif dan simptomatik, yaitu membantu tubuh melawan infeksi serta meredakan gejala yang muncul.
Penanganan suportif yang dapat dilakukan, antara lain memastikan anak cukup istirahat, memberikan asupan nutrisi yang baik dan memastikan kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
Orang tua juga bisa memberikan vitamin A sesuai usia, yakni usia < 6 bulan: 50.000 IU. Kemudian, usia 6 bulan – 1 tahun: 100.000 IU dan usia > 1 tahun: 200.000 IU.
“Vitamin A diberikan untuk membantu mengurangi risiko komplikasi dan angka kematian. Pemberian vitamin A dilakukan selama dua hari berturut-turut sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Pada anak dengan gizi buruk dan/atau yang mengalami komplikasi pada mata, vitamin A dapat diberikan kembali dua minggu kemudian,” jelas dr. Venty.
Tips Pencegahan Campak
dr. Venty mengungkapkan pencegahan campak dapat dilakukan melalui pencegahan umum dan pencegahan spesifik. Pencegahan umum dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain:
Rutin mencuci tangan dengan sabun
Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar
Mengisolasi penderita di rumah selama masa infeksius, yaitu 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul
Menghindari kontak langsung dengan kelompok yang berisiko tinggi, seperti bayi, ibu hamil dan individu dengan daya tahan tubuh rendah (imunokompromais)
Di sisi lain, pencegahan spesifik dilakukan melalui vaksinasi campak. Vaksinasi diberikan sesuai dengan jadwal rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu:
Vaksin MR (Measles/Campak dan Rubella/Campak Jerman) pada bayi usia 9 bulan
Booster MR/MMR (Mumps/Gondongan, Measles, Rubella) pada usia 15-18 bulan
Booster lanjutan MR/MMR pada usia 5-7 tahun
“Yuk ayah dan bunda, kita terapkan perilaku hidup bersih sehat, isolasi mandiri, dan lengkapi imunisasi campak untuk memutuskan penularan dan mencegah si kecil dari campak dan komplikasinya,” tambah dr. Venty.
Mengingat tingginya angka penularan campak dan potensi komplikasi yang dapat terjadi, dr. Venty juga mengimbau orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala yang muncul pada anak. Selain itu, segera melakukan pemeriksaan apabila terdapat tanda-tanda yang mencurigakan. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar