Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Panduan Berhari Raya Idul Fitri Sesuai Tuntunan Rasulullah

Panduan Berhari Raya Idul Fitri Sesuai Tuntunan Rasulullah

  • account_circle Adi Bima
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 26
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INFOKITA.NEWS – Mendekati momentum hari raya idul fitri, sebagai musim hendaknya memperhatikan dirinya dalam melaksanakan ibadah bulan syawal tersebut. Secara bahasa, ‘Ied ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.

Kemudian dinamakan ‘Ied, karena Allah kembali memberikan kebaikan dengan berbuka, setelah kita berpuasa dan membayar zakat fithri. Dan dengan disempurnakannya haji, setelah diperintahkan thawaf dan menyembelih binatang kurban. Karena, biasanya pada waktu-waktu seperti ini terdapat kesenangan dan kebahagiaan.

As Suyuthi rahimahullah berkata,”’Id merupakan kekhususan umat ini. Keberadaan dua hari ‘Ied, merupakan rahmat dari Allah kepada ummat ini.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa Jahiliyyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ’Aku datang dan kalian mempunyai dua hari, yang kalian bermain pada masa Jahiliyah. Kemudian Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr dan hari Fithri’.

Hal-hal yang Disunnahkan Pada Hari ‘Ied
Ada beberapa amalan yang disunnahkan bagi kita pada hari yang berbahagia ini, diantaranya:

  1. Mandi.
    Pada hari ‘Ied, disunnahkan untuk mandi. Karena pada hari tersebut kaum muslimin akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti pada hari Jum’at. Namun, apabila seseorang hanya berwudhu’ saja, maka sah baginya, dan kaifiyatnya seperti mandi janabat.

Nafi’ menceritakan, dahulu, pada ‘Iedul Fithri, Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma mandi sebelum berangkat ke tanah lapang.

Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah berkata,”Sunnah pada hari ‘Iedul Fithri ada tiga : berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar rumah dan mandi.

  1. Berhias Sebelum Berangkat Shalat ‘Ied.
    Disunnahkan untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيْدِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari ‘Ied, Beliau mengenakan burdah warna merah“. (Ash Shahihah, 1.279).

Imam Malik rahimahullah berkata,”Saya mendengar Ahlul Ilmi, mereka menganggap sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Ied.”.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Dahulu, ketika keluar pada shalat dua hari raya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terindah. Beliau memiliki hullah yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari Jum,at. Suatu waktu, Beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan burdah (kain selimut warna merah).”

Sedangkan bagi kaum wanita, tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Dan hendaknya, mereka menjauh dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah, sebagaimana realita yang kita lihat pada zaman sekarang.

  1. Makan Sebelum Shalat ‘Iedul Fithri.
    Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. رواه البخاري

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat ‘Iedul Fithri, sehingga Beliau makan beberapa kurma“. (HR Al Bukhari).

Dan dari Buraidah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَ يَوْمَ النَّحْرِ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلُ مِنْ نَسِيْكَتِهِ. رواه الترمذي وابن ماجه

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari ‘Iedul Fithri, sehingga Beliau makan. Dan Beliau tidak makan pada hari ‘Iedul Adh-ha, sehingga Beliau pulang ke rumah, kemudian makan dari daging kurbannya“.(HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Dahulu, sebelum keluar untuk shalat ‘Iedul Fithri, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan beberapa kurma, dengan jumlah yang ganjil. Dan pada hari ‘Iedul Adh-ha, Beliau tidak makan sehingga kembali dari tanah lapang, maka Beliau makan dari daging kurbannya.”

  1. Mengambil Jalan yang Berbeda Ketika Berangkat Dan Pulang Dari Shalat ‘Ied.
    Disunnahkan untuk menyelisihi jalan, yaitu dengan mengambil satu jalan ketika berangkat menuju shalat ‘Ied, dan melewati jalan yang lain ketika pulang dari tanah lapang.

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ. رواه البخاري

“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika hari ‘Ied, Beliau mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang“. (HR Al Bukhari di dalam Bab Al ‘Iedain)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dengan berjalan kaki, dan beliau menyelisihi jalan; (yaitu) berangkat lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain”

Hukum mengambil jalan yang berbeda ini hanya khusus pada dua hari ‘Ied. Tidak disunnahkan untuk amalan lainnya, seperti shalat Jum’ah, sebagaimana disebutkan Ibnu Dhuwaiyan di dalam kitab Manarus Sabil 1/151.

Atau dalam masalah amal shalih yang lain, Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitab Riyadhush Shalihin, bab disunnahkannya pergi ke shalat ‘Ied, menjenguk orang sakit, pergi haji, perang, mengiringi jenazah dan yang lainnya dengan mengambil jalan yang berbeda, supaya memperbanyak tempat-tempat ibadahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal seperti ini tidak bisa diqiaskan. Terlebih lagi amalan-amalan tersebut ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak pernah dinukil bahwa

Beliau mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ‘Ied. Kita mempunyai satu kaidah yang penting bagi thalibul ilmi, segala sesuatu yang ada sebabnya pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau tidak mengerjakannya, maka amalan tersebut tertolak”.

Hingga Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maka yang benar, ialah pendapat yang mengatakan, mengambil jalan yang berbeda, khusus pada dua shalat ‘Ied saja, sebagaimana yang zhahir dari perkataan muallif -Al Hajjawi di dalam Zaadul Mustaqni’- karena ia tidak menyebutkan pada hari Jum’at, tetapi hanya menyebutkan pada dua hari ‘Ied. Hal ini menunjukkan, bahwa dia memilih pendapat tidak disunnahkannya mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ’Ied”.

  1. Bertakbir.
    Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ البقرة– 185

“Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian, semoga kalian bersyukur“.(Al Baqarah/2:185).

Waktu bertakbir dimulai setelah terlihatnya hilal bulan Syawwal, hal ini jika memungkinkan. Dan jika tidak mungkin, maka dengan datangnya berita, atau ketika terbenamnya matahari pada tanggal 30 Ramadhan.

Kemudian, takbir ini hingga imam selesai dari khutbah ‘Ied. Demikian menurut pendapat yang benar, diantara pendapat Ahlul Ilmi. Akan tetapi, kita tidak bertakbir ketika mendengarkan khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang, atau ketika menunggu imam datang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Takbir pada hari Idul Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal, dan berakhir dengan selesainya ‘Ied. Yaitu ketika imam selesai dari khutbah, (demikian) menurut pendapat yang benar”.

Baca Juga  Pemerintah dan Penentuan Hari Raya
Adapun sifat (shighat) takbir, dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia bertakbir pada hari hari tasyriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz Allahu Akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan sanadnya shahih, akan tetapi disebutkan di lafadz yang lain dengan tiga kali.

اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله , اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, وَللهِ الْحَمْدُ

Tidak selayaknya bertakbir secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang untuk melafadzkan dengan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian diikuti sekelompok orang tersebut. Karena, amalan seperti ini tidak pernah dinukil dari Salaf. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Seperti ini pula pada setiap dzikir, atau ketika memanjatkan do’a-do’a yang masyru’ pada setiap waktu.

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: “Patut untuk diberi peringatan pada saat sekarang ini, bahwa mengeraskan suara ketika bertakbir tidak disyari’atkan secara berjama’ah dengan satu suara, sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian orang. Demikian pula pada setiap dzikir yang dibaca dengan keras atau tidak, maka tidak disyari’atkan untuk berjama’i. Hendaknya kita waspada terhadap masalah ini”.

Hukum Shalat ‘Ied
Hukum shalat ‘Ied adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَمَرَنَا -تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ. متفق عليه

“Nabi memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq (wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan Beliau memerintahkan wanita haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin“. (Muttafaqun ‘alaih).

Dahulu, Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga untuk mengerjakan shalat ‘Ied. Ini merupakan dalil wajibnya shalat ‘Ied. Dan karena shalat ‘Ied menggugurkan kewajiban shalat Jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang bukan wajib, tidak mungkin akan menggugurkan satu kewajiban yang lain.

Pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘Ied adalah fardhu ‘ain, merupakan madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pula pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia mengatakan di dalam Majmu’Fatawa (23/161), sebagai berikut: “Oleh karena itu, kami merajihkan bahwa hukum shalat ‘Ied adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tidak wajib, adalah perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘Ied termasuk syi’ar Islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini, lebih banyak daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak tepat”.

Waktu Shalat ‘Iedul Fithri
Sebagian besar Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa waktu shalat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari. Yakni waktu Dhuha.

Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘Iedul Fithri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan menunaikan zakat fithri.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat ‘Iedul Fithri dan menyegerakan shalat ‘Iedul Adh-ha. Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, seorang sahabat yang sangat berpegang kepada Sunnah. Dia tidak keluar hingga terbit matahari”.

Tempat Mendirikan Shalat ‘Ied
Disunnahkan mengerjakan shalat ‘Ied di mushalla. Yaitu tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali jika ada udzur. Misalnya, seperti: hujan, angin yang kencang dan lainnya, maka boleh dikerjakan di masjid.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Mengerjakan shalat ‘Ied di tanah lapang adalah sunnah, karena dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula khulafaur rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘Ied”.

Tidak Ada Adzan dan Iqamah Sebelum Shalat ‘Ied
Dari Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata:

لَمْ يَكُنْ يُؤَذِّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ الأَضْحَى.رواه البخاري ومسلم

“Tidak pernah adzan pada hari ‘Iedul Fithri dan hari ‘Iedul Adh-ha“. (HR Al Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ. رواه مسلم

“Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua hari raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqamat“. (HR Muslim).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tanah lapang, Beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat ataupun ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan yang sunnah, untuk tidak dikerjakan semua itu”.

Sifat Shalat ‘Ied
Shalat ‘Ied, dikerjakan dua raka’at, bertakbir di dalam dua raka’at tersebut 12 kali takbir, 7 pada raka’at yang pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum qira’ah, dan 5 takbir pada raka’at yang kedua sebelum qira’ah.

عن عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا فِي الْأُولَى وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ. رواه ابن ماجه

“Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada dua shalat ‘Ied tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at yang kedua“.(HR Ibnu Majah)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ. رواه أبو داود و ابن ماجه

“Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada shalat ‘Iedul Fithri dan shalat ‘Iedul Adh-ha tujuh kali dan lima kali, selain dua takbir ruku“. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil, 639).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Beliau memulai shalat ‘Ied sebelum berkhutbah. Beliau shalat dua raka’at. Bertakbir pada raka’at yang pertama, tujuh kali takbir yang beruntun setelah takbir iftitah. Beliau diam sejenak antara dua takbir. Tidak diketahui dzikir tertentu antara takbir-takbir ini. Akan tetapi (ada) disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu memuji Allah, menyanjungNya dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (diantara dua takbir tersebut), sebagaimana disebutkan oleh Al Khallal. Dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma merupakan seorang sahabat yang sangat tamassuk (berpegang teguh) dengan Sunnah.

Beliau mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir. Dan setelah menyempurnakan takbirnya, Nabi memulai qira’ah. Beliau membaca Al Fatihah, kemudian membaca surat Qaaf pada salah satu raka’at. Pada raka’at yang lain, membaca surat Al Qamar. Terkadang membaca surat Al A’laa dan surat Al Ghasyiyah. Telah sah dari Beliau dua hal ini, dan tidak sah riwayat yang menyatakan selainnya.

Ketika selesai membaca, Beliau bertakbir dan ruku’. Kemudian, apabila telah menyempurnakan raka’at yang pertama, Beliau bangkit dari sujud dan bertakbir lima kali secara beruntun. Setelah itu Beliau membaca. Maka takbir merupakan pembuka di dalam dua raka’at, kemudian membaca, dan setelah itu ruku’”.

Apakah Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah ‘Ied?
Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah ‘Ied. Disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:

Baca Juga  Kekeliruan yang Terjadi Pada Hari Raya
أَنَّ النَّبِيَّ صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا. رواه البخاري

“Sesungguhnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Iedul Fithri dua raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya” (HR Al Bukhari).

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Sama sekali tidak ada satu shalat sunnah saat sebelum atau sesudah ‘Ied”. Kemudian dia ditanya: “Bagaimana dengan orang yang ingin shalat pada waktu itu?” Dia menjawab: “Saya khawatir akan diikuti oleh orang yang melihatnya. Ya’ni jangan shalat”.

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kesimpulannya, pada shalat ‘Ied tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang mengqiyaskan dengan shalat Jum’ah. Namun, shalat sunnah muthlaqah tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh seperti pada hari yang lain”.

Apabila shalat ‘Ied dikerjakan di masjid karena adanya udzur, maka diperintahkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam.

Apabila Seseorang Tertinggal Dari Shalat ‘Ied, Apakah Perlu Mengqadha?
Dalam masalah ini, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan di dalam Asy Syarhul Mumti’ 5/208: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat tidak diqadha. Orang yang tertinggal atau luput dari shalat ‘Ied, tidak disunnahkan untuk mengqadha’nya, karena hal ini tidak pernah ada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan karena shalat ‘Ied merupakan shalat yang dikerjakan dengan berkumpul secara khusus. Oleh sebab itu tidak disyari’atkan, kecuali dengan cara seperti itu”.

Kemudian beliau Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata: “Shalat Jum’at juga tidak diqadha. Tetapi, bagi orang yang tertinggal, (ia) mengganti shalat Jum’at dengan shalat fardhu pada waktu itu. Yaitu Dhuhur. Pada shalat ‘Ied, apabila tertinggal dari jama’ah, maka tidak diqadha, karena pada waktu itu tidak terdapat shalat fardhu ataupun shalat sunnah”.

Khutbah ‘Iedul Fithri
Dalam Shahihain dan yang lainnya disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ .رواه البخاري و مسلم

“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke tanah lapang pada ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha. Pertama kali yang Beliau kerjakan ialah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap sahabat, dan mereka tetap duduk di barisan mereka. Kemudian Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan mereka“. (HR Al Bukhari dan Muslim).

Dalam masalah khutbah ‘Ied ini, seseorang tidak wajib mendengarkannya. Dibolehkan untuk meninggalkan tanah lapang seusai shalat. Tidak sebagaimana khutbah Jum’ah, yang wajib bagi kita untuk menghadirinya.

Di dalam hadits Abdullah bin As Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Saya menyaksikan shalat ‘Ied bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai, Beliau berkata: “Kami sekarang berkhutbah. Barangsiapa yang mau mendengarkan, silahkan duduk. Dan barangsiapa yang mau, silahkan pergi“. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil 3/96)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Dahulu, apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan shalat, Beliau berpaling dan berdiri di hadapan para sahabat, sedangkan mereka duduk di barisan mereka. Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan dan melarang mereka. Beliau membuka khuthbah-khutbahnya dengan memuji Allah. Tidak pernah diriwayatkan -dalam satu haditspun- bahwasanya Beliau membuka dua khutbah pada ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan bertakbir. Dan diberikan rukhshah bagi orang yang menghadiri ‘Ied untuk mendengarkan khutbah atau pergi”.

Apabila Hari ‘Ied Bertepatan Dengan Hari Jum’at
Apabila hari ‘Ied bertepatan dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang telah menghadiri ‘Ied menjadi gugur. Tetapi bagi penguasa, sebaiknya memerintahkan agar didirikan shalat Jum’at, supaya dihadiri oleh orang yang tidak menyaksikan ‘Ied atau bagi yang ingin menghadiri Jum’at dari kalangan orang-orang yang telah shalat ‘Ied. Dan sebagai pengganti Jum’at bagi orang yang tidak shalat Jum’at, adalah shalat Dhuhur. Tetapi yang lebih baik, ialah menghadiri keduanya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata:

قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ. رواه أبو داود و ابن ماجه

“Telah berkumpul pada hari kalian ini dua ‘Ied. Barangsiapa yang mau, maka shalat ‘Ied telah mencukupi dari Jum’at. Akan tetapi, kami mengerjakan shalat Jum’at“. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah)

Mengucapkan Selamat Pada Hari ‘Ied
Syaikhul Islam ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari ‘Ied. Beliau menjawab:

“Mengucapkan selamat pada hari ‘Ied; apabila seseorang bertemu saudaranya, kemudian dia berkata   تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُم (semoga Allah menerima amal kebaikan dari kami dan dari kalian), atau أَحَاك اللّهُ عَلَيْكَ   (semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda), atau semisalnya, dalam hal seperti ini telah diriwayatkan dari sekelompok diantara para sahabat, bahwa mereka dahulu mengerjakannya. Dan diperperbolehkan oleh Imam Ahmad dan selainnya. Imam Ahmad berkata,’Saya tidak memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘Ied. Namun, jika seseorang menyampaikan ucapan selamat kepadaku, aku akan menjawanya, karena menjawab tahiyyah hukumnya wajib. Adapun memulai ucapan selamat ‘Ied bukan merupakan sunnah yang diperintahkan, dan tidak termasuk sesuatu yang dilarang. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka ada contohnya. Dan bagi orang yang tidak mengerjakannya, ada contohnya juga. ***

  • Penulis: Adi Bima

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TUMPAH! Puluhan Ribu Penumpang KA di Stasiun Jember Pada Libur Panjang

    TUMPAH! Puluhan Ribu Penumpang KA di Stasiun Jember Pada Libur Panjang

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 14
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Tercatat menjelang libur panjang di bulan Mei 2026 mencapai peningkatan yang cukup signifikan, jumlah penumpang kereta api di wilayah Daerah Operasi 9 Jember, Jawa Timur, sepanjang Pasuruan hingga Banyuwangi menembus angka 54 ribu orang saat libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026 dan cuti bersama. “Animo masyarakat untuk menggunakan moda transportasi kereta api pada […]

  • Pemerintah Terapkan Efisiensi BBM: WFH hingga Hemat Penggunaan Mobil Dinas

    Pemerintah Terapkan Efisiensi BBM: WFH hingga Hemat Penggunaan Mobil Dinas

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 24
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Seiring dengan meningkatnya ketegangan yang terjadi di timur tengah yang mempengaruhi krisis pasar global, Pemerintah bergerak cepat dengan berupaya melakukan stabilisasi dengan mengambil lagkah strategis yang diambil, melalui kementerian terkait pemerintah berencana menerapkan Work From Home (WFH). Diketahui sejak konflik berkecamuk di Timur Tengah, harga minyak dunia melonjak tajam menembus level US$100 – […]

  • Plinko Basketball: Online In Deutschland Spielen

    Plinko Basketball: Online In Deutschland Spielen

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jafar Sidik
    • visibility 3
    • 0Komentar

    “plinko Ball Glücksspiel: Zocken & Gewinnen Sie Online Mit Mir Stake Deutschland Content Plinko Für Deutsche Spieler 🟢 Einsätze, Risikostufen Und Auszahlungen Verifizierung Und Verantwortungsbewusstes Spielen Schnelle Tipps So Funktioniert Plinko Ball Ergebnisse Ansehen Spielen In Eur Unabhängig Geprüfter Rng Hinweise Zum Verantwortungsbewussten Spielen Plinko-exklusivpromos Erste Schritte Auf Plinkoballsgame Com Spielen Wie Sie Dürfen 🎚️ […]

  • Rumah Annisa Rahma Terbakar Akibat Lupa Mematikan Lilin, Ribuan Mushaf Al-Quran Utuh

    Rumah Annisa Rahma Terbakar Akibat Lupa Mematikan Lilin, Ribuan Mushaf Al-Quran Utuh

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 17
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Innalillahi kabar duka dari Pasangan selebritas Anisa Rahma dan Anandito Dwis ditimpa musibah. Rumah mereka di Bandung, kebakaran pada Kamis, 30 April 2026, dini hari. Kronologi kebakaran rumah Anisa Rahma bermula pada jam 03.00 dini hari, Kamis (30/4/2026). Kala itu mantan personel Cherrybelle bersama suami dan tiga anaknya masih tertidur, lalu dibangunkan salah […]

  • Kronologi, Motif dan Fakta Kasus Kekerasan Anak Daycare Little Aresha Jogja

    Kronologi, Motif dan Fakta Kasus Kekerasan Anak Daycare Little Aresha Jogja

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 17
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Viral di media sosial kasus kekerasan anak di penitipan anak atau daycare Little Aresha di Umbulharjo, Jogja. Anak-anak yang dititipkan di daycare tersebut mendapat perlakuan kejam dan tidak manusiawi oleh para pengasuh, Beauties. Salah satu yang jadi sorotan adalah para pengasuh disebut menempatkan anak-anak dalam satu ruangan dengan sirkulasi udara yang sangat minim. […]

  • Menteri Brian Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Pelecehan Seksual, Menteri Arifah Sebut Perlunya Pemahaman Terkait Bentuk Kekerasan Seksual

    Menteri Brian Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Pelecehan Seksual, Menteri Arifah Sebut Perlunya Pemahaman Terkait Bentuk Kekerasan Seksual

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Adi Bima
    • visibility 15
    • 0Komentar

    INFOKITA.NEWS – Menanggapi kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Brian Yuliarto, memastikan penanganan kasus dugaan kekerasan seksual yang mencuat di lingkungan Universitas Indonesia tidak akan mandek di tengah proses. Hal itu disampaikan Brian usai melakukan audiensi bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, […]

expand_less
content-1701

article 898100101

article 898100102

article 898100103

article 898100104

article 898100105

article 898100106

article 898100107

article 898100108

article 898100109

article 898100110

article 898100111

article 898100112

article 898100113

article 898100114

article 898100115

article 898100116

article 898100117

article 898100118

article 898100119

article 898100120

article 898100121

article 898100122

article 898100123

article 898100124

article 898100125

article 898100126

article 898100127

article 898100128

article 898100129

article 898100130

article 898100131

article 898100132

article 898100133

article 898100134

article 898100135

article 898100136

article 898100137

article 898100138

article 898100139

article 898100140

article 898100141

article 898100142

article 898100143

article 898100144

article 898100145

article 898100146

article 898100147

article 898100148

article 898100149

article 898100150

article 898100151

article 898100152

article 898100153

article 898100154

article 898100155

article 898100156

article 898100157

article 898100158

article 898100159

article 898100160

article 878800051

article 878800052

article 878800053

article 878800054

article 878800055

article 878800056

article 878800057

article 878800058

article 878800059

article 878800060

article 878800061

article 878800062

article 878800063

article 878800064

article 878800065

article 878800066

article 878800067

article 878800068

article 878800069

article 878800070

article 878800071

article 878800072

article 878800073

article 878800074

article 878800075

article 878800076

article 878800077

article 878800078

article 878800079

article 878800080

article 878800081

article 878800082

article 878800083

article 878800084

article 878800085

article 878800086

article 878800087

article 878800088

article 878800089

article 878800090

budaya 538000021

budaya 538000022

budaya 538000023

budaya 538000024

budaya 538000025

budaya 538000026

budaya 538000027

budaya 538000028

budaya 538000029

budaya 538000030

budaya 538000031

budaya 538000032

budaya 538000033

budaya 538000034

budaya 538000035

budaya 538000036

budaya 538000037

budaya 538000038

budaya 538000039

budaya 538000040

content-1701