BMKG Sebut Kecil Kemungkinan Super El Nino Terjadi Tahun Ini, tapi Kemarau Lebih Lama
- account_circle Adi Bima
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Masyarakat Indonesia diminta untuk mewaspadai perubahan cuaca ektrem dalam beberapa waktu terakhir ini, hal ini berdasarkan pada laporan temuan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mengungkap kemungkinan kecil terjadinya fenomena iklim El Nino sangat kuat atau belakangan sering disebut ‘Super El Nino’ di Indonesia tahun ini.
Pakar Iklim BMKG Indra Gustari menjelaskan, berdasarkan data terbaru dari BMKG dan beberapa pusat iklim dunia, saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih akan berada di posisi netral hingga pertengahan 2026.
Fenomena iklim ENSO sangat berperan terhadap cuaca dan iklim dunia. Fenomena ini memiliki tiga fase, yaitu El Nino, netral, dan La Nina. Saat fase El Nino, terjadi penurunan jumlah curah hujan di Indonesia hingga memicu musim kemarau berkepanjangan.
Transisi menuju El Nino lemah hingga moderat baru akan terjadi di semester kedua 2026. Peluang terjadinya cukup tinggi, sekitar 50-80%. Sementara itu, prediksi BMKG pada awal April ini menunjukkan bahwa potensi terjadinya El Nino sangat kuat relatif kecil.
Dalam siaran Youtube BMKG dikutip pada Kamis (9/4) menyebutkan
“Peluang munculnya El Nino kategori sangat kuat di tahun 2026 itu relatif kecil, yaitu di bawah 20%,” kata Indra.
Dalam kesempatan itu Indra juga mengatakan, tidak terdapat istilah ‘Super El Nino’ atau ‘Godzilla El Nino’ secara ilmiah.
“Kategori yang biasa dipakai adalah El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat,” ucap dia.
Sementara istilah ‘Super’ atau ‘Godzilla’ digunakan masyarakat untuk menggambarkan kejadian yang ekstrem, dalam hal ini merujuk pada El Nino sangat kuat. Namun sekali lagi, istilah ini tidak dikenal secara ilmiah.
Sebagai informasi, El Nino sangat kuat ini pernah terjadi di Indonesia pada 1997 dan 2015 lalu.
Meski kemungkinan terjadinya El Nino sangat kuat relatif kecil, Indra mewanti-wanti agar masyarakat tetap mewaspadai terjadinya kemarau yang datang lebih cepat dan bertahan lebih lama dibandingkan normalnya.
“Jadi perlu tindakan antisipasi nyata, mulai dari menjaga ketersediaan air bersih, air untuk pertanian, hingga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata dia.
Prediksi BMKG, musim kemarau masuk secara bertahap di beberapa daerah mulai bulan ini hingga Juni mendatang. Sementara puncaknya diprediksi terjadi pada Juli (peluang 12,6%), Agustus (61,4%), dan September (14,3%). ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar