Naiknya Harga Plastik Jadi Ancaman Perekonomian Rakyat Pemerintah Tengah Mencari Sumber Alternatif Untuk Pasokan Bahan Baku Plastik
- account_circle Adi Bima
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INFOKITA.NEWS – Harga plastik di Indonesia merangkak kenaikan. Seretnya pasokan bahan baku plastik global karena perang di Iran diduga menjadi penyebabnya.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menjelaskan, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan Timur Tengah.
“Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, Rabu (1/4).
Ia menegaskan, konflik yang melibatkan Iran membuat rantai pasok terganggu dan berdampak langsung pada harga plastik di dalam negeri.
Tak hanya Indonesia, gangguan ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di Asia. Budi menyebut beberapa produsen di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand mengalami kondisi force majeure.
“Sehingga yang kita impor plastik pun juga sedikit terganggu,” jelasnya.
Budi menyebutkan pemerintah kini tengah mencari sumber alternatif untuk memasok bahan baku plastik ke Indonesia.
Dampak kenaikkan harga Plastik sangat dirasakan oleh pedagang kecil Indonesia, beberapa dari mereka memutuskan tidak menaikkan harga dagangan mereka sebab kondisi tersebut dikhawatirkan malah memperburuk keadaannya.
“Naik, biasanya Rp 25.000 sekarang Rp 30.000, yang biasanya Rp10.000, tapi sekarang sekitar Rp 12.000. Semenjak hari Lebarannya aja ini dari puasa sampai sekarang belum normal,” jelas seorang pedagang nasi goreng di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, Raden Arka (29),
Bila harga plastik tetap merangkak naik, Arka mau tak mau ikut menaikkan harga nasi goreng buatannya. Sebab, dirinya hanya mengambil keuntungan Rp 500-1.000 per porsi.
“Kalau saya pribadi susah (cari alternatif selain plastik) soalnya kan plastik tuh ibaratnya kayak bahan pokok. Sudah terlalu ketergantungan sama plastik,” ujar Arka.
Tidak hanya Arka, seorang pedagang pecel lele di Jatinegara, Parti (57), mengeluhkan hal yang sama.
“Berat sekali karena penjualan kami kan, kan lagi sepi ya, kurang bagus penjualan. Jadi kalau semuanya barang naik ya kita ikut susah lagi tuh,” ucap Parti. Meski harga plastik naik, Parti mengaku tak mau mengubah harga jual dagangannya. “Kami tidak bisa naik, soalnya harga biasa aja yang beli kurang gitu. Jadi kami tidak akan menaikkan harga makanan kita, kami tetep bertahan segitu-gitu,” jelasnya. ***
- Penulis: Adi Bima

Saat ini belum ada komentar